Oleh: tnklestari | Oktober 18, 2010

STITEK BONTANG MENANAM DI TNK

TANAMLAH POHON meskipun esok kiamat’ inilah barangkali pesan yang ingin disampaikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa  ( BEM) Sekolah Tinggi Teknologi (Stitek) Bontang   dalam rangka memperingati Hari Bumi tahun 2010, yang  menggelar kegiatan menanam bakau di kawasan Taman Nasional Kutai pada tanggal 18 April 2010.  Kegiatan ini merupakan refleksi dari keprihatinan para mahasiswa karena semakin lama kualitas lingkungan yang semakin menurun.  Kota Bontang yang di kelilingi oleh hutan bakau, akan terancam apabila hutan bakau mengalami kerusakan. Pasang air laut yang belakangan semakin tinggi dan menurunya hasil tangkapan ikan oleh para nelayan salah satunya ditengarai oleh banyak kerusakan hutan mangrove. Sebelum kegiatan menanam dilakukan para mahasiswa juga belajar membuat persemaian sendiri bibit bakau serta melakukan survay terhadap lokasi-lokasi di Taman Nasional Kutai yang mengalami kerusakan. Bekas-bekas tambak yang dtinggalkan begitu saja menjadi keprihatinan para mahasiswa yang akhirnya menumbuhkan inisiatif untuk melakukan penanaman agar hijau kembali.  ‘Kami berharap dengan aksi ini, masyarakat dan pemerintah  semakin perduli dengan bumi kita yang cuma satu-satunya, karena semakin lama bumi ini semakin tidak ramah dengan manusia karena banyak dirusak oleh manusia. Banyak bencana yang belakangan sering terjadi seperti banjir, tanah longsor, gagal panen dan lain-lain semua karena alam telah banyak dirusak oleh manusia’ ungkap salah satu peserta.  Mudah-mudahan momentum Hari Bumi 2010 dapat menjadi awal yang baik bagi perbaikan alam dan lingkungan .# TEAM PSBM

Oleh: tnklestari | Oktober 8, 2010

taliban ala Menhut

BERKELAKAR  barangkali adalah cara  yang cukup efektif dalam meredakan berbagai ketegangan ataupun memecah kekakuan dalam berkomunikasi. Dengan berkelakar juga barangkali ‘sentilan-sentilan’ ringan dapat lebih mengena tanpa menciptakan ketegangan-ketegangan baru dengan kawan bicara. Karena yang pasti, senyum dan gelak tawa akan lebih mencairkan dan menghangatkan suasana. Suasana  itulah yang kental terasa dalam kunjungan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan ke Taman Nasional Kutai ( TN Kutai)  tanggal 23 Juni 2010.

Kunjungan tersebut merupakan satu rangkaian dengan kunjungan lain di Kalimantan Timur ( Kaltim)  dalam rangka melihat  kembali persoalan-persoalan kehutanan di Kaltim. Bersama Menteri Kehutanan turut pula Menteri Lingkungan Hidup Prof. Gusti Muhammad Hatta, Anggota Satgas Anti Mafia Hukum, Mas Ahmad Santosa, Kepala PPATK Yunus Husein dan  Dirjen PHKA, Darori. Kunjungan ke TN Kutai selain melakukan fly over ke wilayah TN  Kutai dan sekitarnya juga di fokuskan pada lokasi pembangunan Terminal Sangata yang dihentikan karena persoalan legalitas.
Dalam kunjungan ke TN Kutai selain di sambut oleh Kepala Balai TN Kutai, Ir. Tandya Tjahjana , juga disambut oleh Bupati Kutai Timur H. Isran Noor. Bupati Kutai Timur menyampaikan persoalan-persoalan sosial ekonomi dan pembangunan di Kab. Kutai Timur termasuk adanya pemukiman di dalam kawasan TN Kutai, serta populasi satwa seperti orangutan dan bekantan di TN  Kutai yang terus menurun.
Pak Zul, cukup prihatin dengan kondisi provinsi Kaltim yang semakin hari semakin merosot kualitas lingkungannya, yang ditandai dengan banyaknya bencana dimana-mana. Banyak tambang-tambang liar yang beroperasi sehingga kualitas lingkungan menjadi turun.   Menteri  Kehutanan menyampaikan bahwa di Kaltim ini  sekarang  banyak taliban yang pindah ke Samarinda dan  Bukit Suharto. Sontak para pendengar mengernyitkan dahi.  “Ya, taliban itu maksudnya’ tambang liar dari Banjar!’ sambil melirik Menteri Lingkungan Hidup Prof Gusti Muhammad Hatta yang asli  orang Banjar. Tak mau kalah Menteri Lingkungan Hidup pun menyahut ‘ ada juga talila pak!’. “Tambang liar dari Lampung!” yang disambut gelak tawa para hadirin disekitarnya
Dalam keterangannya kepada pers,  Menteri Kehutanan menyampaikan bahwa setiap masalah dapat dipecahkan dengan mengikuti peraturan dan prosedur yang ada. Saat ini Provinsi Kaltim sedang mengajukan revisi RTRW Propinsi Kaltim dan saat ini masih dalam proses pengkajian oleh Tim Terpadu. Namun Menteri Kehutanan menegaskan  bahwa proses revisi dan review tata ruang bukan merupakan proses perubahan dan pemutihan, jika ada pelanggaran akan diproses secara hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.#teampsbm.

Oleh: tnklestari | Oktober 8, 2010

Longicorn beetles

SALAH SATU KEANEKARAGAMAN HAYATI yang ada di Taman Nasional Kutai adalah terdapatnya berbagai jenis kumbang . Dari beberapa jenis kumbang , salah satu diantaranya adalah jenis kumbang berantena panjang  (Longicorn beetles ). Penelitian yang dilakukan di area wisata alam sangkima ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, dominasi, kelimpahan, penyebaran, kemerataan, keanekaragaman dan endemisme jenis-jenis kumbang berantena panjang ( Longicorn beetles ) di areal wisata alam Sangkima Taman Nasional Kutai. Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini adalah selama 3 bulan efektif termasuk orientasi lapangan, pemasangan perangkap dan pengambilan data primer ( 2 bulan efektif), sedangkan pengawetan, pengidentifikasian, pemasangan label, koleksi hingga penyusunan laporan dilakukan selama satu bulan.
Metode Perangkap dipasang pada lokasi yang berbeda topografinya pada jarak 300 meter per perangkap. Untuk pengambilan data digunakan 2 metode yaitu perangkap selambu ( Malaise Trap ) dan perangkap umpan dari daun nangka ( Artocarpus Trap ). Pengambilan specimen dilakukan seminggu sekali pada malaise  trap diiringi dengan penggantian cairan profolin gulocal, sedangkan pada perangkap umpan pengambilan data dilakukan 2 kali dalam seminggu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Indeks Dominasi Jenis (Di ), Indeks Nilai Penting ( INP ) Indeks keanekaragaman Jenis ( H’) , Kemerataan Jenis ( e ), Indek  Kekayaan Jenis ( Da ), dan Indeks Kesamaan Jenis ( ISs )
KesimpulanHasil dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

1. Dari komposisi dan kelimpahan jenis diketahui bahwa dari hasil pengamatan selama 2 bulan  terdapat 32 jenis kumbang dari 1 sub famili yaitu Laminae, 10 Tribe dan 23 genus dengan kelimpahan sebanyak 427 Individu

.2. Dominasi jenis diketahui 7 Jenis, yang dominan yaitu Pterolophia annulitarsis Pascoe ( 120 Individu, Di : 27,907 % ), Acalolepta rusticatrix Fabricius ( 57 Individu , Di:13,256 % ), Nyctimenius ochraceovittata ( 46 Individu,Di: 10,696), Epepoetes Luscus Febricius ( 44 Individu, Di : 10,233 % ) Ropica angusticollis Breuning ( 42 Individu, Di:  9,767 % ) , Pterolophia crassipes Wiedeman ( 30 Individu, Di: 6,977 ) dan Sybra  pula Breuning ( 26 Individu , D1 6,047 % )

3. Penyebaran jenis disetiap lokasi pengamatan diketahui bahwa dilokasi pertama 17 jenis dengan kelimpahan 61 individu, dilokasi kedua 25 jenis dengan kelimpahan  individu sebanyak 212, Individu dilokasi ketiga 10 jenis dengan kelimpahan 86 individu, dan pada lokasi keempat 11 jenis dengan kelimpahan 68 individu.

4. Kesamaan jenis kumbang antara lokasi pertama dengan lokasi kedua 57,2 % , lokasi pertama dengan lokasi ketiga 66,7 %, lokasi pertama dengan lokasi ke empat 50 % pada lokasi kedua dengan lokasi ketiga 45,8 % dan lokasi  kedua dengan lokasi keempat 44,5 % dan lokasi ketiga dengan lokasi keempat 57,2 %.

5. Secara umum keanekaragaman jenis kumbang berantena panjang di lokasi penelitian masih cukup baik, dari 4 lokasi pengamatan. Indeks kekayaan jenis ( Da ), Indeks Keragaman Jenis ( H), Indeks kemerataan Jenis ( e ) dan Indeks Kesamaan Jenis ( ISs ) memiliki perbedaan nilai yang relatif kecil sehingga dapat dikatakan keragamannya relatif sama.6. Dari jenis-jenis yang berhasil diidentifikasi dalam penelitian banyak jenis-jenis kumbang berantena panjang yang menjadi indikator hutan yang terganggu oleh aktifitas manusia. Jenis-jenis kumbang tersebut adalah Pterolophia annulitarsis Pascoe, Acalolepta rusticatrik Fabricius, Nyctimenius ochraceovittata Aurivillius, Epopoetes luscus Fabricius dan Ropica angusticollis  ( Pascoe ).

(Trisno Budoyo, STIPER SANGATA)

Oleh: tnklestari | Oktober 8, 2010

Kaltim, Cameroon dan taliban

SIDANG pembaca yang terhormat, Indonesia sejak dulu terkenal dengan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Tidak hanya hutannya yang luas dengan keanekaragaman hayati yang masyur dengan sebutan megabiodiversity, namun juga kaya dengan sumberdaya alam dibawah hutan seperti minyak bumi, gas, batubara, tembaga, emas dan bahan mineral lain yang bernilai tinggi. Kekayaan tersebut telah dieksploitasi ratusan tahun yang lalu hingga sekarang, sejak jaman kolonialisme hingga zaman kemerdekaan.
Seperti di Kalimantan Timur, eksploitasi sumberdaya alam telah sedemikian masif, sehingga menimbulkan dampak lingkungan yang mulai dirasakan seperti banjir dan cuaca yang tidak menentu. Seperti dalam kelakar Menteri Kehutanan  beberapa waktu yang lalu,  bahwa saat ini Kaltim menghadapi serbuan para ‘taliban’ yang mengeksploitasi batubara bahkan dikawasan yang dilarang seperti di Tahura Bukit Suharto. Tambang-tambang liar ini dalam sekala yang luas berkontribusi terhadap kemunduran kualitas lingkungan di Kaltim.
Sidang pembaca yang terhormat, kekayaan Kaltim yang masih dapat disaksikan saat ini lokasinya sangat terbatas. Barangkali hanya terbatas pada kawasan-kawasan yang dilindungi saja seperti dikawasan konservasi yang relatif masih lebih baik dibandingkan diluar kawasan  konservasi. Taman Nasional Kutai adalah salah satu kawasan dimana representasi hutan tropis Kaltim yang kaya masih dapat dijumpai termasuk satwa langka yang khas Kaltim yaitu Orangutan morio. Duta besar Amerika Serikat, Cameroon R Hume dalam kunjungan ke Taman Nasional Kutai berkesempatan melihat bagaimana orangutan di Taman Nasional Kutai mampu berkembang dan beregenerasi dengan baik. Hal ini tentulah menjadi kebanggaan Kaltim.
Sidang pembaca yang terhormat, selain mendokumentasikan kunjungan dua ‘orang penting’ diatas,  buletin kita edisi kali ini menurunkan liputan utama  mengenai orangutan Kutai yang terekam dari pemaparan , presentasi dan laporan hasil penelitian oleh para peneliti orangutan Kutai,  serta liputan lain yang tak kalah menarik. Selamat membaca!

Oleh: tnklestari | Juli 27, 2010

In Memoriam M. Syaifullah

Mengenang sosok wartawan yang peduli dengan lingkungan dan konservasi M Syaifullah ( Kompas), semoga karya dan tulisanmu tak lekang oleh waktu dan menjadi kaca benggala bagi setiap generasi. Selamat jalan sobat…semoga damai disisi-Nya

Taman Nasional Kutai Menuju Gerbang Kehancuran

Muhammad syaifullah//24 Februari 2000

SEKELOMPOK anak-anak pemulung melambai-lambaikan
tangan di atas menara pengamat kebakaran setinggi sekitar 10 meter. Lambaian itu mengisyaratkan bahwa Anda memasuki kawasan Taman Nasional (TN) Kutai, Kaltim. Inilah suatu kawasan konservasi yang akhir-akhir ini kondisinya benar-benar memprihatinkan dan menghadapi tekanan yang teramat berat. Di depan dua gapura tertulis Welcome to Kutai National Park. Sayang, kondisinya menyedihkan. Sampah-sampah warga Kota Bontang menumpuk di kawasan hutan itu. Maklum saja, Pemda Bontang menjadikan daerah perbatasan Hutan Lindung Bontang dan TN Kutai di daerah Temputuk seluas 10 hektar menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah kota industri gas dan pupuk itu.

Sebuah pos jagawana sudah tak berbentuk lagi, tinggal kerangka. Sementara dinding, lantai dan atapnya sudah hilang. Sekitar 10 meter arah kanan bangunan itu, kerusakan yang sama terjadi pada bangunan Camping Ground Pramuka TN Kutai.

Bangunan itu bantuan PT Badak NGL CO senilai sekitar 87.500 dollar AS, yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemda Bontang, namun tidak pernah dirawat. Tercatat pula, selain peralatan radio komunikasi dan solar sel yang hilang dicuri, ada empat pos jagawana dan 10 papan larangan yang dirusak perambah.

***

PARAHNYA kerusakan kawasan hutan tropis basah ini terlihat di kiri-kanan jalan Bontang-Sangatta sekitar 60 km. Di depan pos jagawana itu sudah terlihat hamparan kawasan hutan yang habis dibabat, dibakar dan ditanami berbagai tanaman seperti pisang, cabai, lada, bawang merah, dan jagung.

Menurut data dari Kantor TN Kutai, daerah yang kini rusak parah akibat perambahan itu mencapai 13.862 hektar, di antaranya di daerah Temputuk, Telukpandan, Kandilo-Telukkaba, Sangkimah, dan Pinang-Masabang. Kawasan itu bagai areal perkebunan rakyat yang baru dibuka secara besar-besaran.

Aksi perambahan di TN Kutai dalam tiga bulan terakhir ini makin tak terkendali, menyusul adanya pernyataan Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kutai Timur Awang Faroek Ishak, yang mengusulkan pelepasan kawasan TN Kutai seluas 15.000 hektar kepada Menteri Kehutanan. Padahal soal pelepasan itu baru usulan dan kawasan yang bermasalah dinyatakan status quo, tetapi warga sudah tak peduli lagi.

Mereka tidak saja sekadar mendirikan pemondokan untuk berkebun, tetapi sudah berani mendirikan beberapa rumah. Selain untuk areal perkebunan, mereka juga memasang patok-patok kaplingan tanah yang telah dirambah untuk diperjualbelikan.

Kerusakan ini menjadi ancaman terbesar terhadap keberadaan habitat satwa-satwa liar dan sebagian dilindungi karena terancam kepunahan seperti orangutan, banteng, rusa (payau), burung enggang, owa-owa dan bekantan. Satwa-satwa yang hidup di Sangkimah, Privab, Mentoko , dan Telukkaba ini diperkirakan populasinya terus menurun.

Bahkan, jenis yang kritis ialah satwa khas Kalimantan, bekantan. Dari penelitian tahun 1997, bekantan yang dijumpai di daerah Sangkimah Muara tinggal sekitar 300-400 ekor. Populasi kera berhidung panjang ini mengalami penurunan terus-menerus akibat kerusakan hutan mangrove setempat karena dibuka untuk tambak ikan.

Kerusakan yang parah terjadi di daerah Telukpandan. Proyek reboisasi dari dana APBN 1999/ 2000 senilai Rp 52 juta untuk sekitar 20 hektar, habis mereka babat. Ini belum terhitung bantuan reboisasi yang dilakukan beberapa perusahaan, mitra TN Kutai, seperti puluhan hektar tanaman yang ditanam perusahaan pertambangan batu bara PT Indominco Mandiri.

Keadaan ini dikhawatirkan terus meluas seperti di Sangkima. Apalagi, aksi perusakan hutan itu tidak saja memakai parang, tetapi sudah menggunakan alat berat dan mesin pemotong kayu atau chainsaw. Di daerah Melawan, sejumlah warga dengan tenangnya menebang dan membelah kayu-kayu ulin berdiameter sekitar 50 sentimeter.

Mereka juga menggunakan beberapa kerbau untuk mengangkut kayu balok. Bagi pemakai jalan Bontang-Sangatta, aksi perusakan hutan bagai menyaksikan tontotan proses hancurnya sebuah kawasan hutan yang telah lama menjadi citra Kalimantan Timur.

***

TN Kutai boleh dibilang tak pernah berhenti dari rintihan kesakitan. Sebelumnya, kawasan hutan ini mengalami musibah kebakaran tahun 1997 dan 1998 yang mencapai 71.098,5 hektar (sekitar 35,75 persen) dari luas 198.629 hektar. Pada Januari-April 1998 saja misalnya, TN Kutai dilaporkan bagaikan tiada hari tanpa kobaran api.

Selain akibat kebakaran dan aktivitas perambahan warga, kerusakan TN Kutai juga terjadi akibat maraknya aksi penebangan kayu secara ilegal, bahkan sudah memasuki kawasan zona inti. Ini terjadi sekitar November 1997. Ribuan pohon ditebang, termasuk pohon-pohon berusia tua berusia puluhan tahun seperti kayu ulin dan meranti.

Kerusakan ini terjadi di daerah perbatasan zona penyangga antara kawasan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) PT Sumalindo Hutani Jaya-PT Surya Hutani Jaya dengan kawasan zona inti TN Kutai, di Kecamatan Sebulu-Muarabengkal-Menamang, Kutai.

Di daerah ini sedikitnya ditemukan 118 “jalan tikus” yang menembus ke kawasan zona inti TN Kutai sekitar 15-35 km. Menurut perhitungan petugas TN Kutai, sedikitnya ada 200 truk pengangkut kayu hasil tebangan liar yang melintasi ratusan jalan mirip “jalan tol”, diberi nomor, ada persimpangan ke mana-mana, tak beraturan.

Ironisnya, untuk mengelabui petugas, sebagian kawasan hutan itu sengaja mereka bakar. Kantor TN Kutai kala itu menghitung sedikitnya 5.585 hektar hutan rusak dengan kayu yang ditebang mencapai 84.000 kubik. Akibatnya, negara dirugikan Rp 94 milyar.

***

PERTENGAHAN tahun 1998, di TN Kutai mulai marak lagi perambahan hutan dan bisnis pengkaplingan tanah. Menurut catatan Kantor TN Kutai dan Polres Bontang, keadaan itu dipicu beredarnya surat keputusan Pemangku Hibbah Tanah Adat Grant Sultan Kutai Kartanegara yang ditandatangani AB Aryo Moelqy Sapoetro di tangan masyarakat, terutama di Desa Guntung. Dalam surat itu, TN Kutai termasuk bagian warisan dari hibah Sultan tersebut.

Atas surat inilah sekitar 500 warga “merintis” lahan sekitar 160 hektar di TN Kutai pada KM 7 jalan Bontang-Sangatta. Mereka tergabung dalam kelompok tani karya. Setiap anggota diminta membayar Rp 200.000 – Rp 300.000.

Aksi mereka berhasil dihentikan, setelah pihak TN Kutai dan Polres Bontang menangkap salah seorang penggeraknya bernama Hindi T dan tiga pelaku perambah lainnya. Selain itu, menurut catatan di Polres Bontang, sedikitnya ada 10 kasus penegakan hukum terhadap pelaku pencurian dan perambahan. Upaya ini cukup membawa hasil di mana sekitar April 1999, perambahan praktis berhenti.

Namun, dua bulan kemudian, aksi perambahan di TN Kutai kembali marak. Ini terjadi di belangkang pos 13 Desa Telukpandan. Diketahui telah terjadi perambahan seluas 10 hektar dengan menggunakan alat berat yang diduga milik PT Jaya Konstruksi, perusahaan yang kini mengerjakan proyek pengaspalan jalan Bontang-Sangatta.

Bahkan, tanah itu sudah dikapling-kapling ukuran 25 x 250 m dengan harga Rp 2 juta/kapling. Sedang di KM 4 jalan Bontang-Sangatta, sekitar 80 orang merintis lahan seluas 10 hektar. Lahan itu juga sudah dikapling-kapling dengan ukuran yang sama dan jual Rp 1,5 juta/kapling.

Di daerah Sangatta Selatan, Kandolo, Teluk Lombok, dan Bontang sendiri juga terjadi hal yang sama. Mereka menjual Rp 100.000 – 800.000/kapling. Sedikitnya ada 30 kelompok yang mendatangkan massa melakukan perambahan secara besar-besaran. Dalam masa-masa perintisan lahan, sedikitnya 925 orang ikut merambah.

***

PERKEMBANGAN aktivitas manusia di dan sekitar TN Kutai itu menyebabkan keutuhan hutan terus terancam. Tekanan lainnya, makin pesatnya perkembangan industri di sekelilingnya, yakni di utara ada perusahaan pertambangan batu bara PT Kaltim Prima Coal (KPC), di Timur ada kawasan industri PT Pupuk Kaltim, industri pengolahan gas alam cair PT Badak NGL Co. Di Selatan dan Barat ada perusahaan batu bara PT Indominco, perusahaan HPHTI PT Sumalindo Hutani Jaya-PT Surya Hutani Jaya.

Kepala TN Kutai Dr Ir Tonny R Suhartono MSc ketika ditemui di Bontang mengungkapkan, kawasan hutan ini sudah ibarat kapal pecah. Kami rasanya sudah putus asa menghadapi persoalan ini.

“Sekarang tinggal kemauan semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini. Jika ingin tetap mempertahankan keutuhan TN Kutai, maka harus ada kerja sama yang kuat untuk menghentikan kegiatan para perambah. Jika tidak, tinggal Pemda Kaltim mengevaluasi keberadaan TN Kutai,” ujar Tonny. ****

Alam begitu banyak menyimpan rahasia, Peter Tompkinn dan Christopher Bird dalam bukunya ‘Secret life of plant’ mengungkapkan  bahwa tumbuhan seperti halnya manusia dapat berpikir, berbicara dan berinteraksi dengan bahasanya sendiri. Fakta-fakta yang dihimpun dan dikumpulkan menunjukkan bahwa tumbuhan  itu  hidup, bernafas, mampu berkomunikasi, dan dianugerahi kepribadian dan sifat-sifat kejiwaan.  Barangkali tidak hanya tumbuhan, namun batu-batu, mineral air dan tanah juga memiliki sifat-sifat hidup. Gambaran ini dapat dilihat dalam fenomena-fenomena alam yang sungguh menakjubkan melalui penjelajahan kedalaman perut bumi  Taman Nasional Kutai. Celah-celah yang membentuk lorong-lorong yang terpahat oleh aliran dan tetesan air menampilkan  keindahan yang tersusun atas mineral-mineral batuan dan tanah, yang  saling berinteraksi dengan kehidupan lainnya.
.Mengawali edisi tahun 2010, liputan utama kali ini mencoba menggali sisi-sisi lain kakayaan alam Kalimantan Timur yang indah yang tersimpan pada Taman Nasional Kutai. Aset tersebut adalah warisan alam terbaik yang harus dilestarikan.  Searah dengan itu pada bagian awal, kolom jejak kutai mengingatkan misi besar Taman Nasional sebagai ‘bahtera nuh’ bagi spesies-spesies tumbuhan yang harus diselamatkan karena masih banyak rahasia-rahasia alam yang belum terungkap. Tugas generasi saat ini adalah memberikan landasan bagi pengembangannya dan tetap mempertahankannya untuk  generasi  mendatang. Semoga!
Oleh: tnklestari | Februari 25, 2010

conservation for better future

Dalam Kamus Inggris – Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1990) , secara etimologis, kata konservasi berasal dari kata conserve, yang berarti mengawetkan dan menghematkan (energi) Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989), konservasi bermakna  pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan. Sementara kata sumber daya alam berarti 1)  sumber daya atau kekayaan yang diadakan oleh alam berupa mineral, kesuburan tanah,  tenaga air, kekayaan hutan, fauna, dan flora, 2) segala kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menghasilkan sesuatu, dan 3) semua unsur daya lingkungan  biofisik yang secara potensial dapat membawa keuntungan bagi manusia

Prof Otto Sumarwoto (1994) mendefinisikan bahwa konservasi alam (nature conservation ) merupakan istilah yang diambil dari istilah cagar alam yang telah digunakan dan menjadi baku. Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada didalamnya. Di dalam cagar alam tidak diperbolehkan segala jenis aktivitas eksploitasi seperti perburuan, penebangan pohon dan  aktivitas merusak lainnya. Menurut kamus Poerwodarminto  cagar berarti benda yang dipakai sebagai tanggungan pinjaman atau hutang. Mencagar berarti memberikan barang sebagai tanggungan pinjaman. Jika dikaitkan dengan konsep alam maka sebenarnya alam ini adalah bukan milik kita, melainkan milik anak cucu kita atau milik generasi yang akan datang. Kita hanyalah meminjamnya dari anak cucu kita dan harus mengembalikannya kepada mereka dalam keadaan baik. Bahkan harus lebih baik dari semula sebagai pembayaran bunganya. Cagar alam itu merupakan tanggungan atau jaminan, bahwa kita akan mengembalikan pinjaman itu.

Konsep Taman Nasional pada prinsipnya  sama dengan konsep cagar alam, tetapi didalamnya dapat dilakukan kegiatan pembangunan yang tidak bertentangan dengan tujuan pencagaran alam. Kegiatan pembangunan dimaksud adalah ekowisata, penelitian dan pendidikan. Tujuan konservasi alam atau pencagaran alam paling tidak ada tiga yaitu:

  1. Memelihara proses ekologi yang esensial   sistem pendukung kehidupan seperti pengaturan tata air, iklim, daur oksigen , dll
  2. Mempertahankan keanekaragaman  hayati (keanekaragaman genetik)
  3. Menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan. Konservasi alam tidak berlawanan dengan pemanfaatan jenis dan ekosistem, namun pemanfaatan itu harus menjamin adanya kesinambungan sehingga kepunahan terhadap jenis dan ekosistem tidak boleh terjadi.

Sampai disini, sebenarnya konservasi alam sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan kehidupan manusia di planet bumi di masa yang akan datang . Jika proses-proses ekologi tidak berjalan maka malapetaka akan datang tanpa mampu dikendalikan sehingga mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Setiap jenis dalam suatu populasi mempunyai sifat yang berbeda, bahkan dalam  satu jenis juga dijumpai perbedaan sifat. Dapat dikatakan bahwa setiap  individu  mempunyai keunikan yang tidak dijumpai pada individu lain, hal ini dikarenakan adanya keanekaragaman gen dalam setiap individu. Misalnya  manusia secara umum berbeda dengan orangutan, tetapi  individu manusia  mempunyai sifat yang berbeda-beda dengan individu manusia yang lain. Hal ini juga terjadi pada hewan dan tumbuhan.

Dari sisi  ilmu pengetahuan keanekaragaman sifat / genetik ini sangat penting untuk dipertahankan. Misalnya dalam bidang pangan, jenis padi tertentu mempunyai sifat yang tahan terhadap serangan hama, tetapi bulirnya padinya sedikit dan waktu berbuahnya lama. Namun ada jenis padi lain yang bulirnya banyak dan waktu berbuahnya cepat namun tidak tahan terhadap serangan hama. Maka dengan ilmu pengetahuan sifat-sifat yang baik dapat diperoleh dari kedua jenis padi tersebut dengan persilangan sehingga dihasilkan padi yang tahan wereng dengan  umur pendek dan bulirnya banyak. Contoh tersebut dikenal sebagai pemuliaan tanaman. Pemuliaan ini sekarang sudah jauh berkembang ke bidang-bidang yang lain misalnya untuk tanaman jagung, kedelai, bahkan ke tanaman keras seperti jati super, jati emas dan sebagainya.

Untuk menjaga keanekaragaman genetik ini dapat terjaga, beberapa negara maju membuat semacam bank gen. Material genetik dari tumbuhan biasanya tersimpan dalam bijinya.  Bank gen menyimpan berbagai macam jenis biji-bijian dalam kondisi penyimpanan yang baik  untuk memelihara daya berkecambahnya dalam waktu yang lama. Misanya IRRI (International Iice Research Institute ) di Los Banos Filipina telah menyimpan hampir semua jenis padi-padian yang ada di dunia ( 120.000 jenis). Rusia juga mempunyai koleksi  yang ekstensif, sebuah bank gen di Rusia menyimpan 100.000 varietas jagung.

Tahun 1970  Amerika  memiliki meterial genetik  jenis gandum  yang dikoleksi dari 27 negara, sebagian besar diambil dari negara-negara berkembang. Sementara itu,  14 negara  berkembang dari 27 negara itu ternyata tidak mempunyai koleksi varietas gandum mereka sendiri. Afganistan, Korea dan Mesir telah kehilangan berbagai jenis varietas gandum mereka dan menemukan varietas itu disimpan di Amerika.

Penguasaan terhadap sumberdaya genetik membawa konsekuensi kekuasaan dari sisi ekonomi dan politik. Kenya, sebuah negara di Afrika,  harus mengimpor  jenis rumput dan kacang-kacangan dari Australia dengan biaya yang mahal, padahal rumput dan kacang-kacangan itu di kembangkan Australia dari  bahan yang diambil dari Kenya. Demikian juga dengan Libya yang harus mengimpor biji makanan ternak dari Australia yang semula berada di Libya sendiri. Saat ini mungkin kita sudah tidak menemukan varietas padi lokal di Indonesia, namun dapat dijumpai di IRRI Filipina. Dalam kondisi hubungun antar negara yang kurang baik, sumberdaya genetik ini dapat digunakan sebagai senjata politik terutama untuk jenis-jenis yang strategis. Negara dengan penguasaan sumber daya genetik yang lebih banyak tentu yang akan memperoleh keuntungan.

Bank gen sebenarnya sangat rentan,  kebakaran, kerusakan alat, dan bencana alam dapat menghacurkan koleksi-koleksi dalam sekejap. Oleh karena itu meyimpan di alam  dengan  cara mencagar/mengkonservasi kawasan hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi solusi yang paling tepat.

Di negara berkembang seperti di Indonesia dimana ilmu pengetahuan masih kalah di banding negara maju sangat penting untuk mencagarkan/mengkonservasi kawasan yang mempunyai potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Kawasan-kawasan konservasi seperti Taman Nasional, suaka margasatwa , taman wisata adalah ibarat bank gen yang disimpan di alam/ habitatnya. Cepat atau lambat manfaat dari tumbuhan yang ada dalam kawasan konservasi tersebut akan diketahui dan dimanfaatkan, mungkin tidak sekarang tetapi sepuluh, duapuluh atau limapuluh  tahun lagi atau bahkan lebih.  Keanekaragaman hayati adalah sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi generasi mendatang untuk memperoleh dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang.

Mungkin yang bisa kita lakukan sekarang adalah melindungi, menjaga agar jenis tumbuhan dan hewan tidak punah dan sedikit mengkaji manfaatnya bagi kita. Apabila kekayaan hayati kita terselamatkan maka kita sudah mengembalikan pinjaman  kita kepada anak cucu kita dan bunganya adalah manfaat yang telah kita kaji yang akan digunakan sebagai dasar bagi generasi mendatang untuk lebih jauh mengembangkannya. Kawasan konservasi adalah harapan yang cerah bagi masa depan anak cucu kita. Harapan itu sekarang ada di tangan kita. ( harjosumantri@gmail.com)

Oleh: tnklestari | Januari 22, 2010

Jangan Lewatkan !

Dapatkan segera bundel pasakbumi th. 2008 (4 edisi)

Oleh: tnklestari | Januari 22, 2010

buletin pasabumi ed. 4 th. 2009 telah terbit

Memasuki tahun 2010, terjadi pergantian nahkoda baru dengan tampilnya Ir. Zulkifli Hasan, M.M sebagai Menteri Kehutanan yang baru menggantikan H.  MS. Ka’ban, M Si. Dengan moto ‘Bersama selamatkan hutan Indonesia’ semua berharap dapat meningkatkan kinerja Departemen Kehutanan menjadi lebih baik lagi.
Memasuki tahun 2010, Taman Nasional Kutai mendapatkan penetapan dari Menteri Kehutanan sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH ) Konservasi, bersama 9 taman nasional yang lain. Beragam tanggapan tentang penetapan sebagai KPH Konservasi barangkali dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sehingga  tujuan pengelolaan TN Kutai dapat terwujud, minimal TN Kutai harus menyiapkan jangka waktu pembenahan untuk menuju kesana.
Memasuki tahun 2010, musim penghujan sudah mulai datang, agenda yang sekarang rutin adalah banjir dimana-mana. Buletin kali ini mengangkat topik peran kawasan konservasi terhadap bencana ekologis yang sekarang mulai rutin terjadi di Bontang- Sangata dan sekitarnya. ‘Jika tanki raksasa itu mulai bocor’ adalah judul ditampilkan di-halaman depan merupakan rangkaian cerita gambar yang tersaji pada fotogenic, memang tidak seperti biasanya yang menjadikan tajuk utama sebagai judul halaman depan. Pada jejak kutai, Pak Dirjen PHKA memberikan arahan dan pandangan tentang tindak pidana kehutanan dan transnational crime. Simak pula mengenai banjir dan kesadaran masyarakat pada tajuk utama. Pada profil sosok low profil Gumeriyanto berbagi cerita pengalaman suka dukanya bekerja konservasi. Pesan Gubernur Kaltim perlu pembaca simak pada akhir buletin.
Memasuki tahun 2010, redaksi mendapat ujian berat dengan krisis listrik di Bontang sehingga pekerjaan penyusunan buletin molor terutama pada desain/ layout karena harus menyesuaikan dengan jadwal ‘setrum’. Ini adalah pekerjaan yang sungguh melelahkan karena tak jarang jam 01.00 pagi harus bekerja. Namun akhirnya buletin ini hadir dihadapan pembaca dengan segala keterbatasannya. 2010 semoga lebih baik//

Oleh: tnklestari | Januari 22, 2010

aktif lagi…

Mohon maaf kawasan-kawan, sudah agak lama blog ini tidak begitu aktif . dan hanya sesekali muncul. hal ini karena ada kendala teknis seperti pindah ruang, dan banyak kesibukan dilapangan sehingga sinyal internet tidak ada. Tapi mudah-mudahan tahun 2010 ini banyak informasi yang dapat kita share..

Semoga

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.