TANAMLAH POHON meskipun esok kiamat’ inilah barangkali pesan yang ingin disampaikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM) Sekolah Tinggi Teknologi (Stitek) Bontang dalam rangka memperingati Hari Bumi tahun 2010, yang menggelar kegiatan menanam bakau di kawasan Taman Nasional Kutai pada tanggal 18 April 2010. Kegiatan ini merupakan refleksi dari keprihatinan para mahasiswa karena semakin lama kualitas lingkungan yang semakin menurun. Kota Bontang yang di kelilingi oleh hutan bakau, akan terancam apabila hutan bakau mengalami kerusakan. Pasang air laut yang belakangan semakin tinggi dan menurunya hasil tangkapan ikan oleh para nelayan salah satunya ditengarai oleh banyak kerusakan hutan mangrove. Sebelum kegiatan menanam dilakukan para mahasiswa juga belajar membuat persemaian sendiri bibit bakau serta melakukan survay terhadap lokasi-lokasi di Taman Nasional Kutai yang mengalami kerusakan. Bekas-bekas tambak yang dtinggalkan begitu saja menjadi keprihatinan para mahasiswa yang akhirnya menumbuhkan inisiatif untuk melakukan penanaman agar hijau kembali. ‘Kami berharap dengan aksi ini, masyarakat dan pemerintah semakin perduli dengan bumi kita yang cuma satu-satunya, karena semakin lama bumi ini semakin tidak ramah dengan manusia karena banyak dirusak oleh manusia. Banyak bencana yang belakangan sering terjadi seperti banjir, tanah longsor, gagal panen dan lain-lain semua karena alam telah banyak dirusak oleh manusia’ ungkap salah satu peserta. Mudah-mudahan momentum Hari Bumi 2010 dapat menjadi awal yang baik bagi perbaikan alam dan lingkungan .# TEAM PSBM
Arsip Bulanan: Oktober 2010
taliban ala Menhut
BERKELAKAR barangkali adalah cara yang cukup efektif dalam meredakan berbagai ketegangan ataupun memecah kekakuan dalam berkomunikasi. Dengan berkelakar juga barangkali ‘sentilan-sentilan’ ringan dapat lebih mengena tanpa menciptakan ketegangan-ketegangan baru dengan kawan bicara. Karena yang pasti, senyum dan gelak tawa akan lebih mencairkan dan menghangatkan suasana. Suasana itulah yang kental terasa dalam kunjungan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan ke Taman Nasional Kutai ( TN Kutai) tanggal 23 Juni 2010.
Kunjungan tersebut merupakan satu rangkaian dengan kunjungan lain di Kalimantan Timur ( Kaltim) dalam rangka melihat kembali persoalan-persoalan kehutanan di Kaltim. Bersama Menteri Kehutanan turut pula Menteri Lingkungan Hidup Prof. Gusti Muhammad Hatta, Anggota Satgas Anti Mafia Hukum, Mas Ahmad Santosa, Kepala PPATK Yunus Husein dan Dirjen PHKA, Darori. Kunjungan ke TN Kutai selain melakukan fly over ke wilayah TN Kutai dan sekitarnya juga di fokuskan pada lokasi pembangunan Terminal Sangata yang dihentikan karena persoalan legalitas.
Dalam kunjungan ke TN Kutai selain di sambut oleh Kepala Balai TN Kutai, Ir. Tandya Tjahjana , juga disambut oleh Bupati Kutai Timur H. Isran Noor. Bupati Kutai Timur menyampaikan persoalan-persoalan sosial ekonomi dan pembangunan di Kab. Kutai Timur termasuk adanya pemukiman di dalam kawasan TN Kutai, serta populasi satwa seperti orangutan dan bekantan di TN Kutai yang terus menurun.
Pak Zul, cukup prihatin dengan kondisi provinsi Kaltim yang semakin hari semakin merosot kualitas lingkungannya, yang ditandai dengan banyaknya bencana dimana-mana. Banyak tambang-tambang liar yang beroperasi sehingga kualitas lingkungan menjadi turun. Menteri Kehutanan menyampaikan bahwa di Kaltim ini sekarang banyak taliban yang pindah ke Samarinda dan Bukit Suharto. Sontak para pendengar mengernyitkan dahi. “Ya, taliban itu maksudnya’ tambang liar dari Banjar!’ sambil melirik Menteri Lingkungan Hidup Prof Gusti Muhammad Hatta yang asli orang Banjar. Tak mau kalah Menteri Lingkungan Hidup pun menyahut ‘ ada juga talila pak!’. “Tambang liar dari Lampung!” yang disambut gelak tawa para hadirin disekitarnya
Dalam keterangannya kepada pers, Menteri Kehutanan menyampaikan bahwa setiap masalah dapat dipecahkan dengan mengikuti peraturan dan prosedur yang ada. Saat ini Provinsi Kaltim sedang mengajukan revisi RTRW Propinsi Kaltim dan saat ini masih dalam proses pengkajian oleh Tim Terpadu. Namun Menteri Kehutanan menegaskan bahwa proses revisi dan review tata ruang bukan merupakan proses perubahan dan pemutihan, jika ada pelanggaran akan diproses secara hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.#teampsbm.
Longicorn beetles
SALAH SATU KEANEKARAGAMAN HAYATI yang ada di Taman Nasional Kutai adalah terdapatnya berbagai jenis kumbang . Dari beberapa jenis kumbang , salah satu diantaranya adalah jenis kumbang berantena panjang (Longicorn beetles ). Penelitian yang dilakukan di area wisata alam sangkima ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, dominasi, kelimpahan, penyebaran, kemerataan, keanekaragaman dan endemisme jenis-jenis kumbang berantena panjang ( Longicorn beetles ) di areal wisata alam Sangkima Taman Nasional Kutai. Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini adalah selama 3 bulan efektif termasuk orientasi lapangan, pemasangan perangkap dan pengambilan data primer ( 2 bulan efektif), sedangkan pengawetan, pengidentifikasian, pemasangan label, koleksi hingga penyusunan laporan dilakukan selama satu bulan.
Metode Perangkap dipasang pada lokasi yang berbeda topografinya pada jarak 300 meter per perangkap. Untuk pengambilan data digunakan 2 metode yaitu perangkap selambu ( Malaise Trap ) dan perangkap umpan dari daun nangka ( Artocarpus Trap ). Pengambilan specimen dilakukan seminggu sekali pada malaise trap diiringi dengan penggantian cairan profolin gulocal, sedangkan pada perangkap umpan pengambilan data dilakukan 2 kali dalam seminggu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Indeks Dominasi Jenis (Di ), Indeks Nilai Penting ( INP ) Indeks keanekaragaman Jenis ( H’) , Kemerataan Jenis ( e ), Indek Kekayaan Jenis ( Da ), dan Indeks Kesamaan Jenis ( ISs )
KesimpulanHasil dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dari komposisi dan kelimpahan jenis diketahui bahwa dari hasil pengamatan selama 2 bulan terdapat 32 jenis kumbang dari 1 sub famili yaitu Laminae, 10 Tribe dan 23 genus dengan kelimpahan sebanyak 427 Individu
.2. Dominasi jenis diketahui 7 Jenis, yang dominan yaitu Pterolophia annulitarsis Pascoe ( 120 Individu, Di : 27,907 % ), Acalolepta rusticatrix Fabricius ( 57 Individu , Di:13,256 % ), Nyctimenius ochraceovittata ( 46 Individu,Di: 10,696), Epepoetes Luscus Febricius ( 44 Individu, Di : 10,233 % ) Ropica angusticollis Breuning ( 42 Individu, Di: 9,767 % ) , Pterolophia crassipes Wiedeman ( 30 Individu, Di: 6,977 ) dan Sybra pula Breuning ( 26 Individu , D1 6,047 % )
3. Penyebaran jenis disetiap lokasi pengamatan diketahui bahwa dilokasi pertama 17 jenis dengan kelimpahan 61 individu, dilokasi kedua 25 jenis dengan kelimpahan individu sebanyak 212, Individu dilokasi ketiga 10 jenis dengan kelimpahan 86 individu, dan pada lokasi keempat 11 jenis dengan kelimpahan 68 individu.
4. Kesamaan jenis kumbang antara lokasi pertama dengan lokasi kedua 57,2 % , lokasi pertama dengan lokasi ketiga 66,7 %, lokasi pertama dengan lokasi ke empat 50 % pada lokasi kedua dengan lokasi ketiga 45,8 % dan lokasi kedua dengan lokasi keempat 44,5 % dan lokasi ketiga dengan lokasi keempat 57,2 %.
5. Secara umum keanekaragaman jenis kumbang berantena panjang di lokasi penelitian masih cukup baik, dari 4 lokasi pengamatan. Indeks kekayaan jenis ( Da ), Indeks Keragaman Jenis ( H), Indeks kemerataan Jenis ( e ) dan Indeks Kesamaan Jenis ( ISs ) memiliki perbedaan nilai yang relatif kecil sehingga dapat dikatakan keragamannya relatif sama.6. Dari jenis-jenis yang berhasil diidentifikasi dalam penelitian banyak jenis-jenis kumbang berantena panjang yang menjadi indikator hutan yang terganggu oleh aktifitas manusia. Jenis-jenis kumbang tersebut adalah Pterolophia annulitarsis Pascoe, Acalolepta rusticatrik Fabricius, Nyctimenius ochraceovittata Aurivillius, Epopoetes luscus Fabricius dan Ropica angusticollis ( Pascoe ).
(Trisno Budoyo, STIPER SANGATA)
Kaltim, Cameroon dan taliban
SIDANG pembaca yang terhormat, Indonesia sejak dulu terkenal dengan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Tidak hanya hutannya yang luas dengan keanekaragaman hayati yang masyur dengan sebutan megabiodiversity, namun juga kaya dengan sumberdaya alam dibawah hutan seperti minyak bumi, gas, batubara, tembaga, emas dan bahan mineral lain yang bernilai tinggi. Kekayaan tersebut telah dieksploitasi ratusan tahun yang lalu hingga sekarang, sejak jaman kolonialisme hingga zaman kemerdekaan.
Seperti di Kalimantan Timur, eksploitasi sumberdaya alam telah sedemikian masif, sehingga menimbulkan dampak lingkungan yang mulai dirasakan seperti banjir dan cuaca yang tidak menentu. Seperti dalam kelakar Menteri Kehutanan beberapa waktu yang lalu, bahwa saat ini Kaltim menghadapi serbuan para ‘taliban’ yang mengeksploitasi batubara bahkan dikawasan yang dilarang seperti di Tahura Bukit Suharto. Tambang-tambang liar ini dalam sekala yang luas berkontribusi terhadap kemunduran kualitas lingkungan di Kaltim.
Sidang pembaca yang terhormat, kekayaan Kaltim yang masih dapat disaksikan saat ini lokasinya sangat terbatas. Barangkali hanya terbatas pada kawasan-kawasan yang dilindungi saja seperti dikawasan konservasi yang relatif masih lebih baik dibandingkan diluar kawasan konservasi. Taman Nasional Kutai adalah salah satu kawasan dimana representasi hutan tropis Kaltim yang kaya masih dapat dijumpai termasuk satwa langka yang khas Kaltim yaitu Orangutan morio. Duta besar Amerika Serikat, Cameroon R Hume dalam kunjungan ke Taman Nasional Kutai berkesempatan melihat bagaimana orangutan di Taman Nasional Kutai mampu berkembang dan beregenerasi dengan baik. Hal ini tentulah menjadi kebanggaan Kaltim.
Sidang pembaca yang terhormat, selain mendokumentasikan kunjungan dua ‘orang penting’ diatas, buletin kita edisi kali ini menurunkan liputan utama mengenai orangutan Kutai yang terekam dari pemaparan , presentasi dan laporan hasil penelitian oleh para peneliti orangutan Kutai, serta liputan lain yang tak kalah menarik. Selamat membaca!