Ekspedisi Barat Daya

ruteweb1

Perjalanan panjang penelusuran batas barat daya  TN Kutai diprakarsai oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Kutai Wilayah II Tenggarong, selanjutnya disebut SPTN II, yang dimulai pada  tanggal 27 Mei hingga 16 Juni 2008. Ekspedisi dilakukan oleh pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SPTN II dibantu oleh personil bagian Environment PT. Surya Hutani Jaya (PT SRH).  Ekspedisi ini bekerjasama dengan perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) PT SRH.  Mengapa kerjasama dengan PT SRH ? Hal ini dilakukan karena letak kawasan yang  dikelola PT. SRH berbatasan langsung dengan kawasan TN Kutai yang masuk dalam  wilayah kerja SPTN II melalui batas konsesi kawasan penyangga (buffer zone).

PROFIL SPTN WILAYAH II TENGGARONG
Kawasan TN Kutai yang dikelola oleh SPTN II secara administratif  termasuk dalam pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas ± 34.720 ha atau 17,48% dari keseluruhan luas  TN Kutai.  Secara keseluruhan, wilayah pengelolaan SPTN II berada dibagian barat kawasan TN Kutai. Pada bagian barat daya, kawasan TN Kutai berbatasan dengan PT SRH, dibagian barat laut berbatasan dengan PT Kiani Lestari.  Kawasan TN Kutai dalam wilayah ini sebagian besar merupakan zona inti sesuai peta situasi TN Kutai.
Kantor SPTN II berada di jalan Jelawat No. 40 Tenggarong, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi dibantu oleh 2 orang staf,  11 orang Polisi Kehutanan  ( Polhut) dan 8 orang PEH . Dalam mengelola kawasannya , SPTN II membagi unit pengelolaan dalam tiga resor  yaitu resor Menamang, Muara Bengkal dan Mawai Indah, namun saat ini hanya resor Menamang yang telah mempunyai pos jaga yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan. Untuk sampai ke resor Menamang diperlukan 2 jam perjalanan darat  dari Tenggarong.  Pos Menamang berada di tengah-tengah area HTI PT SRH, berjarak sekitar 10 km dari kawasan TN Kutai. Akses menuju kawasan TN Kutai adalah dengan mengikuti jalan-jalan HTI yang dibuat oleh PT SRH

EKSPEDISI UNTUK PEMETAAN
Ekspedisi ini dilatarbelakangi dari hasil survei sebelumnya yang menunjukkan bahwa luas buffer zone tidak sesuai dengan batas konsesi kesepakatan serta dijumpai  kerusakan pada beberapa lokasi. Tujuan ekspedisi ini adalah untuk mendapatkan data potensi dan permasalahan yang terangkum dalam peta permasalahan  kawasan TN Kutai khususnya wilayah SPTN II.  Data  dan informasi ini sangat penting dan dibutuhkan sebagai data dasar  untuk pengelolaan TN Kutai. Pemetaan potensi dan permasalahan di sekitar kawasan dan buffer zone diharapkan melahirkan opsi-opsi dasar bagi pengelolaan dan pemecahan masalah lebih lanjut,  khususnya pada zona inti SPTN II.  Tujuan lain yang tak kalah penting adalah  terciptanya kerjasama yang berkelanjutan dengan PT SRH terutama dalam proses pembenahan areal buffer zone maupun membantu pengelolaan kawasan TN Kutai dengan bentuk partisipasi  lain, misalnya  pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan.

lanscape1
PESONA DARI  BARAT DAYA
Selama perjalanan, kenikmatan dapat dirasakan manakala melewati hutan dengan tegakan yang masih baik dan lebat, kesejukan dan udara segar memberikan kenyamanan tersendiri ditambah lagi pemandangan yang menakjubkan akan kebesaran dan keindahan hutan yang cukup terjaga.

A. Beragam flora yang mempesona
Dalam perjalanan ekspedisi ini, kami masih menjumpai  potensi hutan sekunder yang didominasi oleh jenis ulin (Eusideroxylon zwageri), dipterokarpa campuran, serta vegetasi ulin-meranti-kapur yang masih baik, dengan komposisi tegakan vegetasi yang beraneka ragam dan pohon dengan ukuran yang besar-besar. Keanekaragaman vegetasi tersebut seperti; meranti merah (Shorea johorensis), Shorea leprosula, bangkirai (Shorea laevis), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), Ipil (Intsia bijuga), manggis hutan (Garcinia sp), durian (Durio sp),  medang (Litsea sp), Ficus sp, Ficus ribes, arau (Elmerrilia tsiampaca), Archidendron ellipticum, Michelia champaca , Cananga ordorata dan masih banyak jenis lain.
Jenis flora yang lain , seperti salak hutan, pasak bumi, anggrek dan jamur yang beranekaragam ikut menghiasi keindahan hutan TN Kutai yang mengagumkan. Pemandangan tak kalah elok dapat disaksikan di daerah Sungai Santan yang terlindungi oleh topografi berbukit sehingga lolos dari kebakaran hutan maupun pembalakan liar. Hal yang sama juga dapat dilihat di pinggir aliran sungai yang ditumbuhi pohon yang masih rimbun dan lebat.

B. Orangutan yang bertahan
Berbagai satwa juga kami temukan, seperti orangutan (Pongo pygmaeus), musang, jejak beruang madu (Helarctos malayanus), biawak ( Varanus salvator), burung ‘cendrawasih putih’, bajing kerdil, jejak rusa   ( Cervus unicolor) dan kancil (Tragulus javanicus).
Pada kondisi vegetasi yang masih baik, orangutan bersarang pada pohon ulin yang  besar dan cukup rimbun. Ada pula jenis pohon lain yang dimanfaatkan untuk bersarang. Dalam kawasan ini kami menemukan sekitar 65  sarang orangutan dengan tipe sarang A-C. Keberadaan  sarang orangutan yang ditemukan merupakan indikator bahwa kondisi hutan tersebut masih cukup bagus dan layak sebagai habitat suatu jenis fauna seperti orangutan.
Namun demikian, dari pengamatan yang dilakukan, terdapat faktor lain yang menyebabkan banyaknya sarang orangutan dalam kawasan tersebut. Selain ketersediaan pakan dari jenis tumbuhan asli di kawasan TN Kutai,  juga karena adanya spesies Acacia mangium ( orangutan menyukai kambium Acacia mangium)  sebagai sumber pakan yang telah tumbuh menghiasi kawasan terutama pada daerah lahan kritis akibat kebakaran hutan di dalam buffer zone.

C. Jejak-jejak bekantan
Kami menjumpai kawasan dengan tipe hutan yang berbeda menjelang akhir perjalanan, yaitu vegetasi hutan rawa air tawar dengan komposisi tumbuhan yang beraneka ragam. Pada daerah ini kami menemukan banyak pohon yang hidup  dengan daun  yang meranggas dan buah yang dimakan oleh binatang. Dari informasi kegiatan tata batas sebelumnya , di daerah ini banyak di temukan  bekantan (Nasalis larvatus). Melihat fenomena tersebut kami menduga bahwa daerah ini merupakan habitat dari bekantan. Hal ini didukung oleh kondisi vegetasi yang masih sangat baik dan lokasinya tidak jauh dari daerah aliran sungai  yaitu Sungai Menamang Kiri.

D. Tipe hutan yang beragam
Dalam catatan kami, kekayaan keanekaragaman sumberdaya alam hayati yang ada dapat  direpresentasikan dengan berbagai jenis ekosistem hutan yang kami temui,  seperti ekosistem rawa, daerah aliran sungai, ekosistem rawa bergambut, serta ekosistem dataran rendah. Komposisi yang berbeda ini memberikan keuntungan pada munculnya beberapa tipe ekosistem dengan vegetasi hutan yang berbeda pula, seperti vegetasi ulin,  meranti, kenanga,  meranti campuran dan vegetasi lain yang sangat mendukung pada keberadaan sebagai zona inti.
Ada rasa ketenangan ketika melihat bahwa tidak ada kerusakan pada daerah-daerah  aliran sungai-sungai di kawasan SPTN II. Sebagian besar fauna yang ada di wilayah ini memanfaatkan sungai-sungai tersebut sebagai sumber mata air untuk minum dan bertahan hidup. Yang tidak kalah penting adalah sungai- sungai dari TN Kutai yang mengalir menuju sungai  Mahakam ini berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan dimanfaaatkan bagi masyarakat di hilir sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

PROBLEMATIKA DI BARAT DAYA
Fenomena berbeda terlihat saat kami berada d areal yang terbakar dimana  hanya berdiri pohon-pohon yang mati dan hamparan pakis dan semak.  Kondisi ini kami jumpai pada patok batas 660 sampai  680.  Kala matahari terik menyengat, tiada satupun tempat perlindungan  sehingga memaksa kami menghentikan perjalanan.  Sulitnya jalur yang ditempuh dan habisnya perbekalan minum  mengakibatkan kami hampir dehidrasi dan putus asa untuk kembali.

A. Dampak kebakaran hutan yang menghancurkan
Selain menjumpai  hutan sekunder yang relatif masih utuh,  kami juga mendapatkan kondisi hutan yang sangat memprihatinkan akibat kebakaran hutan. Kebakaran hutan pada tahun 1982 dan pada tahun 1997/1998 yang diperkirakan seluas 182.369 ha atau hampir 91% dari luas kawasan telah memberikan dampak yang buruk pada beberapa bagian kawasan. Gambaran di lapangan akibat pengaruh kebakaran hutan sangat nyata dengan rusaknya ekosistem, rusaknya habitat fauna, musnahnya sumber plasma nutfah dan lapisan seresah organik serta hilangnya vegetasi yang mendominasi kawasan hutan tersebut.
Kondisi hutan  yang terbakar seperti ini biasanya bertipe  tanah  berpasir dan bergambut  cukup tebal. Sejauh mata memandang hanya hamparan pakis dan semak belukar serta batang-batang pohon mati berwarna hitam yang masih tegak berdiri. Kebakaran hutan yang terjadi pada bagian hutan ini menyisakan permasalahan yang sangat serius  seperti proses suksesi alami yang sangat sulit untuk pulih kembali karena telah tertutup tumbuhan semak belukar, pohon-pohon yang masih hidup dan dapat berfungsi sebagai pohon induk juga sangat jarang ditemui. Praktis regenerasi hutan tidak terjadi.  Apalagi ditambah dengan sering terjadinya kebakaran hutan setiap tahunnya akibat kemarau dan perilaku penebang liar sepertinya melengkapi penderitaan di bagian hutan ini. Kegiatan restorasi kawasan menjadi sangat penting dilakukan di bagian hutan ini.
Patok batas juga sulit ditemukan karena sebagian besar telah hilang, tertutup semak belukar dan terbakar. Hal ini menjadi bahan pemikiran dalam kegiatan rekonstruksi batas untuk segera dibenahi dan diperbaiki, karena hilangnya beberapa patok yang terbakar, rusak/tertimbun, bahkan lapuk akan mempersulit pengambilan data potensi dalam kawasan, juga terkait dengan kegiatan rekonstruksi maupun pemeliharaan batas kawasan.

B. Invasi  sang  eksotik
Gambaran kerusakan-kerusakan kawasan di SPTN II yang lain dapat dilihat di  sepanjang jalur penyusuran mulai dari daerah Sungai Santan hingga Sungai Menamang Kiri yang berbatasan dengan buffer zone perusahaan PT SRH.  Kami menjumpai sebagian besar telah “terinvasi” oleh spesies eksotik berupa Acasia mangium. Spesies ini telah menyebar pada lahan kritis TN Kutai akibat terbakar.  Bahkan jenis ini telah mendominasi hingga luasan 2000 hektar. Keberadaan Acasia mangium di kawasan ini bermula dari diareal HTI, biji- biji dari Acacia mangium yang siap panen diduga menyebar terbawa angin ke dalam kawasan dan buffer zone. Pada kondisi hutan  bekas terbakar, biji-biji tersebut sangat cepat tumbuh. Tindakan pemusnahan tumbuhan eksotik yang dilanjutkan dengan restorasi kawasan  adalah hal sangat diperlukan agar kawasan ini dapat kembali sesuai fungsinya.

C. Ilegal logging
Bekas kegiatan illegal logging kami jumpai dari daerah Sungai Santan menuju Sungai Tawan. Sedangkan dari Sungai Tawan menuju patok batas 706 Sungai Menamang Kiri tidak ditemukannya lorong/jalur kegiatan illegal logging karena memang kondisi kawasan yang rusak akibat bekas terbakar dan merupakan tipe hutan rawa.
Kegiatan illegal logging telah merusakkan  ekosistem hutan dan habitat satwa. Adanya Kegiatan illegal logging ini dapat dikenali dengan adanya  lorong-lorong (akses jalan untuk mengangkut kayu) rata-rata masih di zona penyangga atau buffer zone dengan arah  menuju kawasan TN Kutai. Kegiatan illegal logging ini dari hasil pengamatan menggunakan akses jalan HTI yang memang terawat  terutama saat musim panen dan penanaman.

HARAPAN DAN TANTANGAN
Hasil ekspedisi  penelusuran batas memberikan beberapa gambaran dan pemahaman  tentang berbagai potensi dan permasalahan yang dihadapi SPTN II dalam mengelola kawasan konservasi ini. Gambaran tersebut setidaknya memberikan secercah harapan sekaligus tantangan untuk mengelola kawasan TN Kutai sebagaimana diamanatkan undang-undang.
Beberapa hal yang menjadi harapan dan tantangan ke depan antara lain:
1. Kondisi vegetasi hutan sekunder relatif masih  bagus, seperti  kondisi vegetasi di daerah Sungai Tawan dengan komposisi tegakan “surga ulin” dan jenis Dipterokarpa campuran yang  selayaknya dipertahankan agar memberikan fungsi ekologi yang optimal. Terdapat potensi ekosistem yang berbeda di sepanjang jalur dengan  dominasi jenis tumbuhan yang berbeda. Hal ini membuka peluang untuk  kegiatan penelitian, seandainya ada  pos pengamatan/stasiun penelitian dan plot permanen untuk penelitian  jangka panjang. Kegiatan penelitian, pendidikan dan wisata alam mempunyai peluang untuk dikembangkan dengan mengedepankan perlindungan kawasan dan tentunya dengan menata ulang  zonasi kawasan.

2. Keberadaan buffer zone bagi kawasan TN Kutai sangat bermanfaat, dimana buffer zone mencegah langsung kegiatan penebangan liar sehingga tidak langsung menjangkau kawasan seperti yang terjadi pada daerah Sungai Tawan hingga Sungai Menamang Kiri yang tidak  ditemukan kegiatan penebangan liar. Aktivitas illegal logging dan perburuan liar yang terjadi diduga karena lemahnya pemantauan, kegiatan pengamanan yang tidak kontinyu, jauhnya jangkauan terhadap kawasan, kurangnya kegiatan yang dilaksanakan di wilayah ini,  serta belum adanya tanda peringatan atau papan larangan di sepanjang tepi buffer zone atau kawasan,
3. Banyak potensi sungai dan anak sungai yang  memberi manfaat sangat nyata kepada masyarakat sekitar dan perusahaan berupa pemanfaatan jasa air yang berasal dari kawasan TN Kutai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan akses transportasi. Hal lain yang dapat dimanfaatkan dari sungai-sungai tersebut antara lain pemanfaatan untuk wisata alam dan penyediaan listrik dengan mikrohidro bagi masyarakat desa sekitar.
4. Di sisi lain,  tidak dapat dipungkiri bahwa di beberapa  lokasi mengalami kerusakan dan  terdegradasi oleh kebakaran hutan dan kegiatan illegal logging. Kondisi tersebut memerlukan penanganan yang serius diantaranya dengan melakukan rehabilitasi dan restorasi untuk mendukung proses regenerasi alami  kawasan agar dapat kembali pulih seperti semula. Kondisi hutan sekunder SPTN II yang dilindungi oleh zona penyangga dengan berbagai permasalahannya perlu dipertahankan dan dikelola dengan  baik dengan melakukan perlindungan dan pengamanan, serta pengayaan kegiatan yang berbasis konservasi.
5. Kerjasama antara  perusahaan dan masyarakat sekitar kawasan (Menamang Kanan dan Kiri) perlu dijalin untuk turut serta menjaga keamanan kawasan.
TN  Kutai  di bagian barat daya masih menyimpan  kekayaan berbagai  jenis flora dan fauna.  Potensi keanekaragaman sumberdaya alam hayati dapat  memotivasi semua pihak untuk terus menggali potensi pemanfaatan secara arif dan bijaksana agar fungsi kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat umum.

LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS
1. Sebagai tahap awal, SPTN II Tenggarong telah menjalin kerjasama dengan PT SRH untuk membuat papan informasi dan tanda peringatan yang dipasang pada beberapa titik yang rawan terhadap kegiatan illegal logging, terutama di batas buffer zone. Pengamanan bersama dengan PT SRH  dan masyarakat saat ini terus dijalin untuk mengatasi persoalan perlindungan kawasan
2. Kerjasama dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara tengah dijalin untuk merestorasi kawasan yang rusak akibat kebakaran hutan melalui program rehabilitasi. Hal tersebut sangat penting untuk mempercepat proses  suksesi di kawasan tersebut.
3. Pengelolaan satwa dilindungi, seperti orangutan,  saat ini terus  diupayakan melalui Kelompok Kerja orangutan  dengan fokus pada pembangunan koridor dari area PT SRH ke kawasan TN Kutai.
4. Komunikasi dengan masyarakat Menamang Kanan dan Kiri  tengah dibangun untuk mendukung pengelolaan kawasan.

CATATAN AKHIR
Perjalanan dari ekspedisi menyusuri batas ini kiranya dapat merangkum potensi dan permasalahan yang terjadi di kawasan TN Kutai di sebagian  wilayah SPTN II. Kekayaan keanekaragaman hayati yang masih dijumpai kiranya dapat menghapus munculnya opini dan merubah paradigma masyarakat akan kelayakan  dan keberadaan TN Kutai.
Gambaran tentang kondisi permasalahan dan potensi kawasan di SPTN II  ini selanjutnya dapat menjadi bahan  untuk membuat dasar perencanaan pengelolaan TN Kutai  yang tepat dan sesuai, sehingga dapat  memberikan kontribusi yang pantas bagi pengelolaan kawasan. Hasil jerih payah perjalanan kiranya dapat  menumbuhkan peluang  dan semangat kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi TN Kutai.

Ekspedisi ke pinggir jantung Taman Nasional Kutai

Hari jum’at , tanggal 4 April 2008 jam 09.00

Team ekspedisi yang terdiri dari 1 orang dari   Conservationisty Club kota bontang, 1 orang dari The Sixteam , KSBTU Tn Kutai dan 4 orang dari SPTN II tenggarong di bawah Mr. Beny Sukino meluncur dari bontang menuju Pos Menamang, Pos terdekat ke zona inti kawasan Taman Nasional Kutai . Untuk mencapai Pos Menamang diperlukan waktu sekitar 7 jam setelah melewati Kota Samrinda, Tenggarong dan beberapa desa di wilayah Kab Kutai kartanegara samapailah kami di pintu gerbang PT SHJ di cam 38. Jalan selebar 6 meter dengan pengerasan pasir dan kerikil memungkinkan kendaraan melaju diatas 80 km/jam, bak jalan tol lurus membelah barisan pohon acasia dan eucalyptus yang berjajar rapi di kiri kanan jalan. Kami sempat berhenti ditengah hutan acasia yang terdapat menara setinggi hampir 25 m . dari atas menara kami dapat melihat hamparan barisan hutan HTi yang bertopografi sangat datar yang menakjubkan. Dikejauhan, samar-samar terlihat barisan tegakan hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa , Zona inti , Jantung Taman Nasional Kutai

Pukul 16.00 team akhirnya sampai di Pos dan bergabung dengan 6 orang anggota SPTN Tenggarong yang telah bertukar shif.

Pos Menamang berlokasi ditengah-tengah petak hamparan tegakan acacia mangium dan eucalyptus perusahaan hutan tanaman industry PT SHJ, 10 km dari kawasan inti taman Nasional kutai. Pos ini di jaga oleh enam orang yang bertgantian menjaga setiap dua minggu sekali. Pos ini berdampingan dengan Pos Satpam milik surya hutani Jaya. Desa yang terdekat dengan Pos adalah desa Menamang maka Pos ini lebih di kenal dengan Pos Menamang. Ada empat bangunan pos. Namun hanya dua post yang ditempati para Penjaga hhutan ini, satu pos l di pinjam masyarakt satu pos lagi di khususkan untuk Tamu. Hanya ada dua motor trail untuk mobilisasi. Jarak Pos ke kawasan pinggiran taman nasional Kutai terdekat sekitar 10 km.

Malam ini, kami membahas rencana esok pagi kemudian istirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Fokus ekspedisi besok adalah mencapai buffer zone untuk mengetahui kondisi actual dilapangan.

Hari Sabtu, tanggal 5 April 2008. Jam 08.00

Kami telah siap diatas hiline merah dan siap meluncur ke jantung kawasan Taman Nasional Kutai Perut kami telah terisi oleh masakan kawan-kawan penjaga hutan yang sangat mahir juga dalam hal masak memasak. Perjalanan melewati tegakan acacia berusia muda diseling dengan petak-petak habis ditebang. Sesekali pohon-pohon asli masih berdiri, mungkin menjadi saksi sejarah tentang hutan hujan tropis dataran rendah yang benar-benar datar/ flat. Diiringi panas terik matahari yang menyengat, Pos 70 dicapai dalam waktu 30 menit. Bekas Pos Tn Kutai yang dulu pernah ada sudah tidak ditemukan lagi bekas-bekasnya. Sebaris sisa-sisa hutan alam terjebak diantara barisan acacia mangium.

Perjalanan dilanjutkan ke Menara pengamatan kebakaran untuk memproleh sinyal GPS yang blank di Pos 70. Dari sini barisan kawasan inti Tn Kutai sangat jelas terlihat dari sini seperti memagari kawasan HTI. Setelah mendapatkan titik, perjalanan dilanjutkan ke buffer zone yang berjarak sekitar 500 m dari menara. Jaringan jalan HTI yang berada di pinggir kawasan buffer zone yang mulus membuat hiline kami tidak mengalami masalah.

Di buffer zone didominasi oleh alang-alang dan tumbuhan paku serta semak belukar. Sisa-sisa pohon bekas terbakar dan mengering menjadikan pemandangan yang tidak lazim bagi kawasan inti sebuah Taman Nasional. Tumbuhan Acacia mangium dari HTI banyak menyeberang kedalam kawasan buffer zone, mungkin dibawa angin atau burung sehingga dibeberapa tempat acacia menjadi agak dominan.

Sepanjang jalan dipinggir bufferzone banyak ditemukan lorong/rintisan yang menandakan ada yang memasuki kawasan bufferzone, Sampai dititik N 0501725 E36347 Az.90 ditemukan 16 lorong kecil( kami menyebut jalan bekas rintisan orang yang masuk kekawasan sebagai lorong kecil) dan 1 lorong besar (lorong besar adalah jalan yang masuk kekawasan yang cukup lebar, truk bisa masuk kedalam) (seukuran jalan truk) yang sudah tidak dipakai. Perjalanana diteruskan sampai titik N507873E33959 AZ 50 setidaknya ada 12 lorong kecil dan 3 lorong besar.

Beberapa tempat yang kami singgahi, masih menyisakan tutupan vegetasi yang cukup bagus. Namun juga tidak terlepas dari pembalak liar, beberapa lorong yang kami ikuti selalu berakhir pada penebangan liar.

Kami mengakhir ekspedisi hari ini dengan merobohkan satu tenda para pembalak liar yang ditinggal kabur para pelakunya

Hari Minggu 6 April 2007,

Perjalanan menyusuri pinggian jantung kawasan TN Kutai dilajutkan kearah Timur. Berbeda dengan yang disudut sebelah barat, perjalanan ketimur harus ditempuh dengan melintasi topografi yang berbukit-bukit. Sesekali orang-orang yang bekerja di HTI menyetop kendaraan kami sekedar numpang ke camp yang searah dengan perjalanan kami. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami mencapai pinggiran kawasan.

Ada yang membuat kecut hati, katika jalan HTI yang kami lalui kami kira berhenti di pinggir kawasan ternyata jalan tersebut terus masuk kedalam kawasan. Tapak-tapak ban truk yang masih baru menandakan bahwa jalan ini baru saja di pakai. Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong besar yang baru saja di pakai, jauh masuk kedalam kawasan hutan. Satu jembatan besar kami temukan. Bau ban dan tanah yang dilalui masih tercium menandakan kendaraan ini belum lama melintas.

Hampir satu kilometer kami berjalan mencari ujung jalan logging ini. Akhirnya kami berhenti di ujung belokan dan menemukan percabangan jalan. Mr Beny sukino yang lebih lincah dari kami telah menangkap seseorang dengan motor yang ketahuan berburu kijang. Dari pemburu inilah diketahui bahwa truk illegal logging beroperasi semalam sekitar pukul 22.00. beberapa kawan terus menelusuri jalan tersebut untuk menemukan ujungnya . dikiri kanan vegetasi masih cukup rapat, kami melihat 3 sarang orangutan satu masih baru, dua sudah lama. Beberapa kawan yang kembali dari menyusuri jalan mengatakan bahwa jalan tembus ke jalan HTI di sebelahnya, sementara percabangan jalan yang lain jauh masuk kedalam.

Setelah sekitar 1 jam melakukan pendataan dan observasi team kembali turun, dengan fokus merobohkan jembatan agar tidak digunakan lagi. Hanya ada ranting kering, satu drigen minyak dan korek api, jadilah jembatan itu dipanggang!. Namun kemudian , jembatan dipotong karena api tidak mampu untuk merobohkannya

Di tempat lain , team menemukan patok batas TN. Patok 496 sangat dekat dengan lokasi penanaman HTI, praktis buffer zone yang ada hanya sekitar 5 m dari patok tersebut.

Begitu keluar hutan, suara raungan mesin chain saw terdengar, di seberang tampak dua orang sedang membelah kayu tepat dibatas antara buffer zone dan areal HTI. Mr Beny berserta beberapa orang segera meluncur ke lokasi. Sayang seribu sayang, salah satu mobil kami pecah ban. Lebih apes lagi ban cadangannya juga kempes. Praktis hanya satu kendaraan yang dapat digunakan.

Setelah mencapai lokasi, pembinaan dilakukan karena lokasi penebangan masih didalam areal HTI, namun mereka dengan suka rela untuk menghentikan kegiatannya. Tim kecil Mr. Beny menyusur lorong-lorong yang tampaknya sudah tidak digunakan, beberapa informasi menyebutkan lorong tersebut tembus ke lorong baru tadi. Setelah menuruni bukit, kami menemukan tiga camp besar di pinggir sungai. Dari tantda-tandanya camp ini baru ditinggalkan 1- 2 hari yang lalu. Menurut perkiraan camp ini bisa menampung sekitar 10 orang, beberapa barang masih tertinggal di situ seperti, kapak, rantai, pakaian, bahan makanan, peralatan dll. Agar tidak digunakan camp ini kemudian dirobohkan.

Mr Beny dkk kemudian kembali ke tempat semula ,dimana mobil yang pecah ban masih menunggu solusi. Akhirnya diputuskan agar mobil yang satu kembali untuk membawa ban ke bengkel, sementara yang lain menunggui mobil yang pecah ban.

Disela-sela menunggui, datang seseorang dari Menamang yang pekerjaannya menjaga gua walet yang akan ikut menumpang. Menurut ceritanya banyak satwa yang masih ada disana seperti payau, kijang, beruang, ular, macan dahan. Sementara potensi sarang walet ada tetapi produksinya sudah jauh berkurang.

Sekitar 2 jam menuggu akhirnya datang ban baru yang telah di tambal, tidak hanya itu team juga membawa nasi bungkus telor yang membuat perut-perut kami bersorak.

Setelah selesai memperbaiki mobil dan mengisi perut, matahari telah tergelincir. Awan hitam mengggantung di angkasa. Perjalanan selanjutnya adalah kembali ke Pos diiringi rintik-rintik hujan yang mulai menetes…

Sepanjang perjalanan pulang ke pos tidak ada kata yang banyak kami ucapkan, masing-masing larut dalam perasaan masing-masing menyaksikan kondisi jantung kawasan konservasi itu. Sebuah pekerjaan rumah yang besar telah dipampangkan….

Ekspedisi Sangkima

SIXTEam

Hari Rabu tanggal 19 Maret 2008 enam orang yang tergabung dalam SIX TEAM melakukan kegiatan ekspedisi selama dua hari di hutan Sangkima Taman Nasional Kutai. Ekspedisi yang di maksudkan untuk menelusuri jejak kura-kura kaki gajah ( Manuoria emys ) yang pernah ditemukan oleh tem eiger advanture yang melakukan kegiatan Mountain & Jungle Course di hutan Sangkima Taman Nasional Kutai pertengahan tahun 2007 lalu.

Kura-kura Kaki gajah atau lebih dikenal dengan kura-kura gunung merupakan satwa yang baru dilaporkan keberadaannya di Taman Nasional Kutai. Tidak seperti kura-kura yang hidup di air, jenis kura-kura ini lebih suka hidup didarat terutama di daerah-daerah datar sampai lereng-lereng gunung. Beberapa informasi mengatakan bahwa kura-kura ini dapat mencapai ukuran raksasa dan mampu hidup dalam umur yang panjang. IUCN menyebutkan keberadaan dari kura-kura ini dalam status terancam punah (endangered species).

Dengan informasi awal yang diberikan tim Eiger dan panduan GPS serta peralatan navigasi lainnya, Team bergerak dari Pos Sangkima menuju tempat yang diduga merupakan habitat dari kura-kura darat tersebut. Perjalanan dimulai dengan menyusuri trek Sangkima sepanjang 2 kilometer kemudian dilanjutkan dengan menembus pekatnya hutan rimba Sangkima. Naik dan turun perbukitan yang terjal dan curam sangat menguras stamina namun merupakan pengalaman petualangan yang mengasyikkan.

Setelah hampir tiga jam berjalan, tim menemukan tempat yang cukup datar dan banyak tumbuhan dari jenis zingiberaceae dan juga talas-talasan ( alocasia ). Berdasarkan literature makanan kura-kura kaki gajah adalah jenis-jenis tersebut disamping beberapa jenis jamur. Tim memutuskan untuk mengobservasi singkat lokasi tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik yang dituju. Di lokasi tersebut memang banyak ditemukan sisa jenis alocasia yang rusak dan bekas dimakan oleh satwa. Namun setelah observasi selama setengah jam, Team belum menemukan kura- kura yang dimaksud. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga mencapai sebuah puncak bukit yang cukup tinggi.

Dari bukit ini, hamparan hutan yang cukup lebat dengan diselimuti kabut diatasnya menampilkan panorama hutan hujan tropis yang sangat indah. Rasa capek, lelah dan pegal tiba-tiba lenyap menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu. Tim memutuskan untuk istirahat dan membuka bekal sambil menikmati indahnya panorama hutan. Takjub dengan keindahan alam itu Team kemudian menamai bukit ini sebagai Bukit Panorama.

Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga melewati dua bukit yang penuh dengan bebatuan dan hutan-hutan sekunder yang diduga terbakar parah saat kebakaran hutan tahun 1997. Pohon-pohon kering dan menghitam serta lebatnya tumbuhan bawah semakin menguatkan dugaan tersebut. Karena stamina yang sudah melemah dan sulit menembus rimbunnya belukar, Team memutuskan untuk kembali ke basecamp dan melanjutkan esok hari.

Hari kedua difokuskan pada pencarian pada tempat yang diduga merupakan habitat kura-kura kaki gajah yaitu ditempat saat dilakukan observasi singkat pada hari pertama. Dengan metode transek, tim menyisir hutan dengan harapan menemukan kura-kura tersebut. Menemukan kura-kura darat di hutan seperti mencari sebutir mutiara dihamparan padang pasir. Setelah hampir 3 jam, tim belum juga menemukan satwa yang dicari. Mengingat keterbatasan waktu dan perbekalan akhirnya ekspedisi ini dihentikan untuk sementara. Selanjutnya tim akan memfokuskan pada penguatan data-data lapangan yang mendukung keberadaan satwa ini dari informasi masyarakat.

Walaupun belum menemukan kura-kura kaki gajah , tim cukup puas dengan hasil ekspedisi ini . Sepanjang perjalanan Tim menemukan jejak –jejak berbagai satwa seperti babi hutan, landak, pelanduk, beberapa sarang orangutan baik yang baru maupun lama, bekas-bekas cakaran binatang pada kulit pohon yang diduga adalah beruang madu (Ursus malayanus), berbagai jenis burung dan 4 jenis amfibi yang belum diketahui jenisnya.

Jejak beruang madukatak

Dari ekspedisi ini Tim menyimpulkan bahwa Taman Nasional Kutai sebenarnya masih menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang layak untuk dipertahankan. Kebakaran hutan memang telah membuat hutan terdegradasi, namun secara alami hutan mulai pulih kembali. Anakan-anakan pohon mulai tumbuh menggantikan pohon tua yang mati atau terbakar. Yang diperlukan hutan sekarang adalah kesempatan untuk merehabilitasi secara alami dengan tidak melakukan intervensi terhadap proses alamiah tersebut.