Perjalanan panjang penelusuran batas barat daya TN Kutai diprakarsai oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Kutai Wilayah II Tenggarong, selanjutnya disebut SPTN II, yang dimulai pada tanggal 27 Mei hingga 16 Juni 2008. Ekspedisi dilakukan oleh pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SPTN II dibantu oleh personil bagian Environment PT. Surya Hutani Jaya (PT SRH). Ekspedisi ini bekerjasama dengan perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) PT SRH. Mengapa kerjasama dengan PT SRH ? Hal ini dilakukan karena letak kawasan yang dikelola PT. SRH berbatasan langsung dengan kawasan TN Kutai yang masuk dalam wilayah kerja SPTN II melalui batas konsesi kawasan penyangga (buffer zone).
PROFIL SPTN WILAYAH II TENGGARONG
Kawasan TN Kutai yang dikelola oleh SPTN II secara administratif termasuk dalam pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas ± 34.720 ha atau 17,48% dari keseluruhan luas TN Kutai. Secara keseluruhan, wilayah pengelolaan SPTN II berada dibagian barat kawasan TN Kutai. Pada bagian barat daya, kawasan TN Kutai berbatasan dengan PT SRH, dibagian barat laut berbatasan dengan PT Kiani Lestari. Kawasan TN Kutai dalam wilayah ini sebagian besar merupakan zona inti sesuai peta situasi TN Kutai.
Kantor SPTN II berada di jalan Jelawat No. 40 Tenggarong, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi dibantu oleh 2 orang staf, 11 orang Polisi Kehutanan ( Polhut) dan 8 orang PEH . Dalam mengelola kawasannya , SPTN II membagi unit pengelolaan dalam tiga resor yaitu resor Menamang, Muara Bengkal dan Mawai Indah, namun saat ini hanya resor Menamang yang telah mempunyai pos jaga yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan. Untuk sampai ke resor Menamang diperlukan 2 jam perjalanan darat dari Tenggarong. Pos Menamang berada di tengah-tengah area HTI PT SRH, berjarak sekitar 10 km dari kawasan TN Kutai. Akses menuju kawasan TN Kutai adalah dengan mengikuti jalan-jalan HTI yang dibuat oleh PT SRH
EKSPEDISI UNTUK PEMETAAN
Ekspedisi ini dilatarbelakangi dari hasil survei sebelumnya yang menunjukkan bahwa luas buffer zone tidak sesuai dengan batas konsesi kesepakatan serta dijumpai kerusakan pada beberapa lokasi. Tujuan ekspedisi ini adalah untuk mendapatkan data potensi dan permasalahan yang terangkum dalam peta permasalahan kawasan TN Kutai khususnya wilayah SPTN II. Data dan informasi ini sangat penting dan dibutuhkan sebagai data dasar untuk pengelolaan TN Kutai. Pemetaan potensi dan permasalahan di sekitar kawasan dan buffer zone diharapkan melahirkan opsi-opsi dasar bagi pengelolaan dan pemecahan masalah lebih lanjut, khususnya pada zona inti SPTN II. Tujuan lain yang tak kalah penting adalah terciptanya kerjasama yang berkelanjutan dengan PT SRH terutama dalam proses pembenahan areal buffer zone maupun membantu pengelolaan kawasan TN Kutai dengan bentuk partisipasi lain, misalnya pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan.

PESONA DARI BARAT DAYA
Selama perjalanan, kenikmatan dapat dirasakan manakala melewati hutan dengan tegakan yang masih baik dan lebat, kesejukan dan udara segar memberikan kenyamanan tersendiri ditambah lagi pemandangan yang menakjubkan akan kebesaran dan keindahan hutan yang cukup terjaga.
A. Beragam flora yang mempesona
Dalam perjalanan ekspedisi ini, kami masih menjumpai potensi hutan sekunder yang didominasi oleh jenis ulin (Eusideroxylon zwageri), dipterokarpa campuran, serta vegetasi ulin-meranti-kapur yang masih baik, dengan komposisi tegakan vegetasi yang beraneka ragam dan pohon dengan ukuran yang besar-besar. Keanekaragaman vegetasi tersebut seperti; meranti merah (Shorea johorensis), Shorea leprosula, bangkirai (Shorea laevis), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), Ipil (Intsia bijuga), manggis hutan (Garcinia sp), durian (Durio sp), medang (Litsea sp), Ficus sp, Ficus ribes, arau (Elmerrilia tsiampaca), Archidendron ellipticum, Michelia champaca , Cananga ordorata dan masih banyak jenis lain.
Jenis flora yang lain , seperti salak hutan, pasak bumi, anggrek dan jamur yang beranekaragam ikut menghiasi keindahan hutan TN Kutai yang mengagumkan. Pemandangan tak kalah elok dapat disaksikan di daerah Sungai Santan yang terlindungi oleh topografi berbukit sehingga lolos dari kebakaran hutan maupun pembalakan liar. Hal yang sama juga dapat dilihat di pinggir aliran sungai yang ditumbuhi pohon yang masih rimbun dan lebat.
B. Orangutan yang bertahan
Berbagai satwa juga kami temukan, seperti orangutan (Pongo pygmaeus), musang, jejak beruang madu (Helarctos malayanus), biawak ( Varanus salvator), burung ‘cendrawasih putih’, bajing kerdil, jejak rusa ( Cervus unicolor) dan kancil (Tragulus javanicus).
Pada kondisi vegetasi yang masih baik, orangutan bersarang pada pohon ulin yang besar dan cukup rimbun. Ada pula jenis pohon lain yang dimanfaatkan untuk bersarang. Dalam kawasan ini kami menemukan sekitar 65 sarang orangutan dengan tipe sarang A-C. Keberadaan sarang orangutan yang ditemukan merupakan indikator bahwa kondisi hutan tersebut masih cukup bagus dan layak sebagai habitat suatu jenis fauna seperti orangutan.
Namun demikian, dari pengamatan yang dilakukan, terdapat faktor lain yang menyebabkan banyaknya sarang orangutan dalam kawasan tersebut. Selain ketersediaan pakan dari jenis tumbuhan asli di kawasan TN Kutai, juga karena adanya spesies Acacia mangium ( orangutan menyukai kambium Acacia mangium) sebagai sumber pakan yang telah tumbuh menghiasi kawasan terutama pada daerah lahan kritis akibat kebakaran hutan di dalam buffer zone.
C. Jejak-jejak bekantan
Kami menjumpai kawasan dengan tipe hutan yang berbeda menjelang akhir perjalanan, yaitu vegetasi hutan rawa air tawar dengan komposisi tumbuhan yang beraneka ragam. Pada daerah ini kami menemukan banyak pohon yang hidup dengan daun yang meranggas dan buah yang dimakan oleh binatang. Dari informasi kegiatan tata batas sebelumnya , di daerah ini banyak di temukan bekantan (Nasalis larvatus). Melihat fenomena tersebut kami menduga bahwa daerah ini merupakan habitat dari bekantan. Hal ini didukung oleh kondisi vegetasi yang masih sangat baik dan lokasinya tidak jauh dari daerah aliran sungai yaitu Sungai Menamang Kiri.
D. Tipe hutan yang beragam
Dalam catatan kami, kekayaan keanekaragaman sumberdaya alam hayati yang ada dapat direpresentasikan dengan berbagai jenis ekosistem hutan yang kami temui, seperti ekosistem rawa, daerah aliran sungai, ekosistem rawa bergambut, serta ekosistem dataran rendah. Komposisi yang berbeda ini memberikan keuntungan pada munculnya beberapa tipe ekosistem dengan vegetasi hutan yang berbeda pula, seperti vegetasi ulin, meranti, kenanga, meranti campuran dan vegetasi lain yang sangat mendukung pada keberadaan sebagai zona inti.
Ada rasa ketenangan ketika melihat bahwa tidak ada kerusakan pada daerah-daerah aliran sungai-sungai di kawasan SPTN II. Sebagian besar fauna yang ada di wilayah ini memanfaatkan sungai-sungai tersebut sebagai sumber mata air untuk minum dan bertahan hidup. Yang tidak kalah penting adalah sungai- sungai dari TN Kutai yang mengalir menuju sungai Mahakam ini berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan dimanfaaatkan bagi masyarakat di hilir sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
PROBLEMATIKA DI BARAT DAYA
Fenomena berbeda terlihat saat kami berada d areal yang terbakar dimana hanya berdiri pohon-pohon yang mati dan hamparan pakis dan semak. Kondisi ini kami jumpai pada patok batas 660 sampai 680. Kala matahari terik menyengat, tiada satupun tempat perlindungan sehingga memaksa kami menghentikan perjalanan. Sulitnya jalur yang ditempuh dan habisnya perbekalan minum mengakibatkan kami hampir dehidrasi dan putus asa untuk kembali.
A. Dampak kebakaran hutan yang menghancurkan
Selain menjumpai hutan sekunder yang relatif masih utuh, kami juga mendapatkan kondisi hutan yang sangat memprihatinkan akibat kebakaran hutan. Kebakaran hutan pada tahun 1982 dan pada tahun 1997/1998 yang diperkirakan seluas 182.369 ha atau hampir 91% dari luas kawasan telah memberikan dampak yang buruk pada beberapa bagian kawasan. Gambaran di lapangan akibat pengaruh kebakaran hutan sangat nyata dengan rusaknya ekosistem, rusaknya habitat fauna, musnahnya sumber plasma nutfah dan lapisan seresah organik serta hilangnya vegetasi yang mendominasi kawasan hutan tersebut.
Kondisi hutan yang terbakar seperti ini biasanya bertipe tanah berpasir dan bergambut cukup tebal. Sejauh mata memandang hanya hamparan pakis dan semak belukar serta batang-batang pohon mati berwarna hitam yang masih tegak berdiri. Kebakaran hutan yang terjadi pada bagian hutan ini menyisakan permasalahan yang sangat serius seperti proses suksesi alami yang sangat sulit untuk pulih kembali karena telah tertutup tumbuhan semak belukar, pohon-pohon yang masih hidup dan dapat berfungsi sebagai pohon induk juga sangat jarang ditemui. Praktis regenerasi hutan tidak terjadi. Apalagi ditambah dengan sering terjadinya kebakaran hutan setiap tahunnya akibat kemarau dan perilaku penebang liar sepertinya melengkapi penderitaan di bagian hutan ini. Kegiatan restorasi kawasan menjadi sangat penting dilakukan di bagian hutan ini.
Patok batas juga sulit ditemukan karena sebagian besar telah hilang, tertutup semak belukar dan terbakar. Hal ini menjadi bahan pemikiran dalam kegiatan rekonstruksi batas untuk segera dibenahi dan diperbaiki, karena hilangnya beberapa patok yang terbakar, rusak/tertimbun, bahkan lapuk akan mempersulit pengambilan data potensi dalam kawasan, juga terkait dengan kegiatan rekonstruksi maupun pemeliharaan batas kawasan.
B. Invasi sang eksotik
Gambaran kerusakan-kerusakan kawasan di SPTN II yang lain dapat dilihat di sepanjang jalur penyusuran mulai dari daerah Sungai Santan hingga Sungai Menamang Kiri yang berbatasan dengan buffer zone perusahaan PT SRH. Kami menjumpai sebagian besar telah “terinvasi” oleh spesies eksotik berupa Acasia mangium. Spesies ini telah menyebar pada lahan kritis TN Kutai akibat terbakar. Bahkan jenis ini telah mendominasi hingga luasan 2000 hektar. Keberadaan Acasia mangium di kawasan ini bermula dari diareal HTI, biji- biji dari Acacia mangium yang siap panen diduga menyebar terbawa angin ke dalam kawasan dan buffer zone. Pada kondisi hutan bekas terbakar, biji-biji tersebut sangat cepat tumbuh. Tindakan pemusnahan tumbuhan eksotik yang dilanjutkan dengan restorasi kawasan adalah hal sangat diperlukan agar kawasan ini dapat kembali sesuai fungsinya.
C. Ilegal logging
Bekas kegiatan illegal logging kami jumpai dari daerah Sungai Santan menuju Sungai Tawan. Sedangkan dari Sungai Tawan menuju patok batas 706 Sungai Menamang Kiri tidak ditemukannya lorong/jalur kegiatan illegal logging karena memang kondisi kawasan yang rusak akibat bekas terbakar dan merupakan tipe hutan rawa.
Kegiatan illegal logging telah merusakkan ekosistem hutan dan habitat satwa. Adanya Kegiatan illegal logging ini dapat dikenali dengan adanya lorong-lorong (akses jalan untuk mengangkut kayu) rata-rata masih di zona penyangga atau buffer zone dengan arah menuju kawasan TN Kutai. Kegiatan illegal logging ini dari hasil pengamatan menggunakan akses jalan HTI yang memang terawat terutama saat musim panen dan penanaman.
HARAPAN DAN TANTANGAN
Hasil ekspedisi penelusuran batas memberikan beberapa gambaran dan pemahaman tentang berbagai potensi dan permasalahan yang dihadapi SPTN II dalam mengelola kawasan konservasi ini. Gambaran tersebut setidaknya memberikan secercah harapan sekaligus tantangan untuk mengelola kawasan TN Kutai sebagaimana diamanatkan undang-undang.
Beberapa hal yang menjadi harapan dan tantangan ke depan antara lain:
1. Kondisi vegetasi hutan sekunder relatif masih bagus, seperti kondisi vegetasi di daerah Sungai Tawan dengan komposisi tegakan “surga ulin” dan jenis Dipterokarpa campuran yang selayaknya dipertahankan agar memberikan fungsi ekologi yang optimal. Terdapat potensi ekosistem yang berbeda di sepanjang jalur dengan dominasi jenis tumbuhan yang berbeda. Hal ini membuka peluang untuk kegiatan penelitian, seandainya ada pos pengamatan/stasiun penelitian dan plot permanen untuk penelitian jangka panjang. Kegiatan penelitian, pendidikan dan wisata alam mempunyai peluang untuk dikembangkan dengan mengedepankan perlindungan kawasan dan tentunya dengan menata ulang zonasi kawasan.
2. Keberadaan buffer zone bagi kawasan TN Kutai sangat bermanfaat, dimana buffer zone mencegah langsung kegiatan penebangan liar sehingga tidak langsung menjangkau kawasan seperti yang terjadi pada daerah Sungai Tawan hingga Sungai Menamang Kiri yang tidak ditemukan kegiatan penebangan liar. Aktivitas illegal logging dan perburuan liar yang terjadi diduga karena lemahnya pemantauan, kegiatan pengamanan yang tidak kontinyu, jauhnya jangkauan terhadap kawasan, kurangnya kegiatan yang dilaksanakan di wilayah ini, serta belum adanya tanda peringatan atau papan larangan di sepanjang tepi buffer zone atau kawasan,
3. Banyak potensi sungai dan anak sungai yang memberi manfaat sangat nyata kepada masyarakat sekitar dan perusahaan berupa pemanfaatan jasa air yang berasal dari kawasan TN Kutai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan akses transportasi. Hal lain yang dapat dimanfaatkan dari sungai-sungai tersebut antara lain pemanfaatan untuk wisata alam dan penyediaan listrik dengan mikrohidro bagi masyarakat desa sekitar.
4. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa di beberapa lokasi mengalami kerusakan dan terdegradasi oleh kebakaran hutan dan kegiatan illegal logging. Kondisi tersebut memerlukan penanganan yang serius diantaranya dengan melakukan rehabilitasi dan restorasi untuk mendukung proses regenerasi alami kawasan agar dapat kembali pulih seperti semula. Kondisi hutan sekunder SPTN II yang dilindungi oleh zona penyangga dengan berbagai permasalahannya perlu dipertahankan dan dikelola dengan baik dengan melakukan perlindungan dan pengamanan, serta pengayaan kegiatan yang berbasis konservasi.
5. Kerjasama antara perusahaan dan masyarakat sekitar kawasan (Menamang Kanan dan Kiri) perlu dijalin untuk turut serta menjaga keamanan kawasan.
TN Kutai di bagian barat daya masih menyimpan kekayaan berbagai jenis flora dan fauna. Potensi keanekaragaman sumberdaya alam hayati dapat memotivasi semua pihak untuk terus menggali potensi pemanfaatan secara arif dan bijaksana agar fungsi kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat umum.
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS
1. Sebagai tahap awal, SPTN II Tenggarong telah menjalin kerjasama dengan PT SRH untuk membuat papan informasi dan tanda peringatan yang dipasang pada beberapa titik yang rawan terhadap kegiatan illegal logging, terutama di batas buffer zone. Pengamanan bersama dengan PT SRH dan masyarakat saat ini terus dijalin untuk mengatasi persoalan perlindungan kawasan
2. Kerjasama dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara tengah dijalin untuk merestorasi kawasan yang rusak akibat kebakaran hutan melalui program rehabilitasi. Hal tersebut sangat penting untuk mempercepat proses suksesi di kawasan tersebut.
3. Pengelolaan satwa dilindungi, seperti orangutan, saat ini terus diupayakan melalui Kelompok Kerja orangutan dengan fokus pada pembangunan koridor dari area PT SRH ke kawasan TN Kutai.
4. Komunikasi dengan masyarakat Menamang Kanan dan Kiri tengah dibangun untuk mendukung pengelolaan kawasan.
CATATAN AKHIR
Perjalanan dari ekspedisi menyusuri batas ini kiranya dapat merangkum potensi dan permasalahan yang terjadi di kawasan TN Kutai di sebagian wilayah SPTN II. Kekayaan keanekaragaman hayati yang masih dijumpai kiranya dapat menghapus munculnya opini dan merubah paradigma masyarakat akan kelayakan dan keberadaan TN Kutai.
Gambaran tentang kondisi permasalahan dan potensi kawasan di SPTN II ini selanjutnya dapat menjadi bahan untuk membuat dasar perencanaan pengelolaan TN Kutai yang tepat dan sesuai, sehingga dapat memberikan kontribusi yang pantas bagi pengelolaan kawasan. Hasil jerih payah perjalanan kiranya dapat menumbuhkan peluang dan semangat kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi TN Kutai.




