Ekspedisi Sangkima

SIXTEam

Hari Rabu tanggal 19 Maret 2008 enam orang yang tergabung dalam SIX TEAM melakukan kegiatan ekspedisi selama dua hari di hutan Sangkima Taman Nasional Kutai. Ekspedisi yang di maksudkan untuk menelusuri jejak kura-kura kaki gajah ( Manuoria emys ) yang pernah ditemukan oleh tem eiger advanture yang melakukan kegiatan Mountain & Jungle Course di hutan Sangkima Taman Nasional Kutai pertengahan tahun 2007 lalu.

Kura-kura Kaki gajah atau lebih dikenal dengan kura-kura gunung merupakan satwa yang baru dilaporkan keberadaannya di Taman Nasional Kutai. Tidak seperti kura-kura yang hidup di air, jenis kura-kura ini lebih suka hidup didarat terutama di daerah-daerah datar sampai lereng-lereng gunung. Beberapa informasi mengatakan bahwa kura-kura ini dapat mencapai ukuran raksasa dan mampu hidup dalam umur yang panjang. IUCN menyebutkan keberadaan dari kura-kura ini dalam status terancam punah (endangered species).

Dengan informasi awal yang diberikan tim Eiger dan panduan GPS serta peralatan navigasi lainnya, Team bergerak dari Pos Sangkima menuju tempat yang diduga merupakan habitat dari kura-kura darat tersebut. Perjalanan dimulai dengan menyusuri trek Sangkima sepanjang 2 kilometer kemudian dilanjutkan dengan menembus pekatnya hutan rimba Sangkima. Naik dan turun perbukitan yang terjal dan curam sangat menguras stamina namun merupakan pengalaman petualangan yang mengasyikkan.

Setelah hampir tiga jam berjalan, tim menemukan tempat yang cukup datar dan banyak tumbuhan dari jenis zingiberaceae dan juga talas-talasan ( alocasia ). Berdasarkan literature makanan kura-kura kaki gajah adalah jenis-jenis tersebut disamping beberapa jenis jamur. Tim memutuskan untuk mengobservasi singkat lokasi tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik yang dituju. Di lokasi tersebut memang banyak ditemukan sisa jenis alocasia yang rusak dan bekas dimakan oleh satwa. Namun setelah observasi selama setengah jam, Team belum menemukan kura- kura yang dimaksud. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga mencapai sebuah puncak bukit yang cukup tinggi.

Dari bukit ini, hamparan hutan yang cukup lebat dengan diselimuti kabut diatasnya menampilkan panorama hutan hujan tropis yang sangat indah. Rasa capek, lelah dan pegal tiba-tiba lenyap menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu. Tim memutuskan untuk istirahat dan membuka bekal sambil menikmati indahnya panorama hutan. Takjub dengan keindahan alam itu Team kemudian menamai bukit ini sebagai Bukit Panorama.

Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga melewati dua bukit yang penuh dengan bebatuan dan hutan-hutan sekunder yang diduga terbakar parah saat kebakaran hutan tahun 1997. Pohon-pohon kering dan menghitam serta lebatnya tumbuhan bawah semakin menguatkan dugaan tersebut. Karena stamina yang sudah melemah dan sulit menembus rimbunnya belukar, Team memutuskan untuk kembali ke basecamp dan melanjutkan esok hari.

Hari kedua difokuskan pada pencarian pada tempat yang diduga merupakan habitat kura-kura kaki gajah yaitu ditempat saat dilakukan observasi singkat pada hari pertama. Dengan metode transek, tim menyisir hutan dengan harapan menemukan kura-kura tersebut. Menemukan kura-kura darat di hutan seperti mencari sebutir mutiara dihamparan padang pasir. Setelah hampir 3 jam, tim belum juga menemukan satwa yang dicari. Mengingat keterbatasan waktu dan perbekalan akhirnya ekspedisi ini dihentikan untuk sementara. Selanjutnya tim akan memfokuskan pada penguatan data-data lapangan yang mendukung keberadaan satwa ini dari informasi masyarakat.

Walaupun belum menemukan kura-kura kaki gajah , tim cukup puas dengan hasil ekspedisi ini . Sepanjang perjalanan Tim menemukan jejak –jejak berbagai satwa seperti babi hutan, landak, pelanduk, beberapa sarang orangutan baik yang baru maupun lama, bekas-bekas cakaran binatang pada kulit pohon yang diduga adalah beruang madu (Ursus malayanus), berbagai jenis burung dan 4 jenis amfibi yang belum diketahui jenisnya.

Jejak beruang madukatak

Dari ekspedisi ini Tim menyimpulkan bahwa Taman Nasional Kutai sebenarnya masih menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang layak untuk dipertahankan. Kebakaran hutan memang telah membuat hutan terdegradasi, namun secara alami hutan mulai pulih kembali. Anakan-anakan pohon mulai tumbuh menggantikan pohon tua yang mati atau terbakar. Yang diperlukan hutan sekarang adalah kesempatan untuk merehabilitasi secara alami dengan tidak melakukan intervensi terhadap proses alamiah tersebut.

2 thoughts on “Ekspedisi Sangkima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s