Ekspedisi ke pinggir jantung Taman Nasional Kutai

Hari jum’at , tanggal 4 April 2008 jam 09.00

Team ekspedisi yang terdiri dari 1 orang dari   Conservationisty Club kota bontang, 1 orang dari The Sixteam , KSBTU Tn Kutai dan 4 orang dari SPTN II tenggarong di bawah Mr. Beny Sukino meluncur dari bontang menuju Pos Menamang, Pos terdekat ke zona inti kawasan Taman Nasional Kutai . Untuk mencapai Pos Menamang diperlukan waktu sekitar 7 jam setelah melewati Kota Samrinda, Tenggarong dan beberapa desa di wilayah Kab Kutai kartanegara samapailah kami di pintu gerbang PT SHJ di cam 38. Jalan selebar 6 meter dengan pengerasan pasir dan kerikil memungkinkan kendaraan melaju diatas 80 km/jam, bak jalan tol lurus membelah barisan pohon acasia dan eucalyptus yang berjajar rapi di kiri kanan jalan. Kami sempat berhenti ditengah hutan acasia yang terdapat menara setinggi hampir 25 m . dari atas menara kami dapat melihat hamparan barisan hutan HTi yang bertopografi sangat datar yang menakjubkan. Dikejauhan, samar-samar terlihat barisan tegakan hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa , Zona inti , Jantung Taman Nasional Kutai

Pukul 16.00 team akhirnya sampai di Pos dan bergabung dengan 6 orang anggota SPTN Tenggarong yang telah bertukar shif.

Pos Menamang berlokasi ditengah-tengah petak hamparan tegakan acacia mangium dan eucalyptus perusahaan hutan tanaman industry PT SHJ, 10 km dari kawasan inti taman Nasional kutai. Pos ini di jaga oleh enam orang yang bertgantian menjaga setiap dua minggu sekali. Pos ini berdampingan dengan Pos Satpam milik surya hutani Jaya. Desa yang terdekat dengan Pos adalah desa Menamang maka Pos ini lebih di kenal dengan Pos Menamang. Ada empat bangunan pos. Namun hanya dua post yang ditempati para Penjaga hhutan ini, satu pos l di pinjam masyarakt satu pos lagi di khususkan untuk Tamu. Hanya ada dua motor trail untuk mobilisasi. Jarak Pos ke kawasan pinggiran taman nasional Kutai terdekat sekitar 10 km.

Malam ini, kami membahas rencana esok pagi kemudian istirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Fokus ekspedisi besok adalah mencapai buffer zone untuk mengetahui kondisi actual dilapangan.

Hari Sabtu, tanggal 5 April 2008. Jam 08.00

Kami telah siap diatas hiline merah dan siap meluncur ke jantung kawasan Taman Nasional Kutai Perut kami telah terisi oleh masakan kawan-kawan penjaga hutan yang sangat mahir juga dalam hal masak memasak. Perjalanan melewati tegakan acacia berusia muda diseling dengan petak-petak habis ditebang. Sesekali pohon-pohon asli masih berdiri, mungkin menjadi saksi sejarah tentang hutan hujan tropis dataran rendah yang benar-benar datar/ flat. Diiringi panas terik matahari yang menyengat, Pos 70 dicapai dalam waktu 30 menit. Bekas Pos Tn Kutai yang dulu pernah ada sudah tidak ditemukan lagi bekas-bekasnya. Sebaris sisa-sisa hutan alam terjebak diantara barisan acacia mangium.

Perjalanan dilanjutkan ke Menara pengamatan kebakaran untuk memproleh sinyal GPS yang blank di Pos 70. Dari sini barisan kawasan inti Tn Kutai sangat jelas terlihat dari sini seperti memagari kawasan HTI. Setelah mendapatkan titik, perjalanan dilanjutkan ke buffer zone yang berjarak sekitar 500 m dari menara. Jaringan jalan HTI yang berada di pinggir kawasan buffer zone yang mulus membuat hiline kami tidak mengalami masalah.

Di buffer zone didominasi oleh alang-alang dan tumbuhan paku serta semak belukar. Sisa-sisa pohon bekas terbakar dan mengering menjadikan pemandangan yang tidak lazim bagi kawasan inti sebuah Taman Nasional. Tumbuhan Acacia mangium dari HTI banyak menyeberang kedalam kawasan buffer zone, mungkin dibawa angin atau burung sehingga dibeberapa tempat acacia menjadi agak dominan.

Sepanjang jalan dipinggir bufferzone banyak ditemukan lorong/rintisan yang menandakan ada yang memasuki kawasan bufferzone, Sampai dititik N 0501725 E36347 Az.90 ditemukan 16 lorong kecil( kami menyebut jalan bekas rintisan orang yang masuk kekawasan sebagai lorong kecil) dan 1 lorong besar (lorong besar adalah jalan yang masuk kekawasan yang cukup lebar, truk bisa masuk kedalam) (seukuran jalan truk) yang sudah tidak dipakai. Perjalanana diteruskan sampai titik N507873E33959 AZ 50 setidaknya ada 12 lorong kecil dan 3 lorong besar.

Beberapa tempat yang kami singgahi, masih menyisakan tutupan vegetasi yang cukup bagus. Namun juga tidak terlepas dari pembalak liar, beberapa lorong yang kami ikuti selalu berakhir pada penebangan liar.

Kami mengakhir ekspedisi hari ini dengan merobohkan satu tenda para pembalak liar yang ditinggal kabur para pelakunya

Hari Minggu 6 April 2007,

Perjalanan menyusuri pinggian jantung kawasan TN Kutai dilajutkan kearah Timur. Berbeda dengan yang disudut sebelah barat, perjalanan ketimur harus ditempuh dengan melintasi topografi yang berbukit-bukit. Sesekali orang-orang yang bekerja di HTI menyetop kendaraan kami sekedar numpang ke camp yang searah dengan perjalanan kami. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami mencapai pinggiran kawasan.

Ada yang membuat kecut hati, katika jalan HTI yang kami lalui kami kira berhenti di pinggir kawasan ternyata jalan tersebut terus masuk kedalam kawasan. Tapak-tapak ban truk yang masih baru menandakan bahwa jalan ini baru saja di pakai. Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong besar yang baru saja di pakai, jauh masuk kedalam kawasan hutan. Satu jembatan besar kami temukan. Bau ban dan tanah yang dilalui masih tercium menandakan kendaraan ini belum lama melintas.

Hampir satu kilometer kami berjalan mencari ujung jalan logging ini. Akhirnya kami berhenti di ujung belokan dan menemukan percabangan jalan. Mr Beny sukino yang lebih lincah dari kami telah menangkap seseorang dengan motor yang ketahuan berburu kijang. Dari pemburu inilah diketahui bahwa truk illegal logging beroperasi semalam sekitar pukul 22.00. beberapa kawan terus menelusuri jalan tersebut untuk menemukan ujungnya . dikiri kanan vegetasi masih cukup rapat, kami melihat 3 sarang orangutan satu masih baru, dua sudah lama. Beberapa kawan yang kembali dari menyusuri jalan mengatakan bahwa jalan tembus ke jalan HTI di sebelahnya, sementara percabangan jalan yang lain jauh masuk kedalam.

Setelah sekitar 1 jam melakukan pendataan dan observasi team kembali turun, dengan fokus merobohkan jembatan agar tidak digunakan lagi. Hanya ada ranting kering, satu drigen minyak dan korek api, jadilah jembatan itu dipanggang!. Namun kemudian , jembatan dipotong karena api tidak mampu untuk merobohkannya

Di tempat lain , team menemukan patok batas TN. Patok 496 sangat dekat dengan lokasi penanaman HTI, praktis buffer zone yang ada hanya sekitar 5 m dari patok tersebut.

Begitu keluar hutan, suara raungan mesin chain saw terdengar, di seberang tampak dua orang sedang membelah kayu tepat dibatas antara buffer zone dan areal HTI. Mr Beny berserta beberapa orang segera meluncur ke lokasi. Sayang seribu sayang, salah satu mobil kami pecah ban. Lebih apes lagi ban cadangannya juga kempes. Praktis hanya satu kendaraan yang dapat digunakan.

Setelah mencapai lokasi, pembinaan dilakukan karena lokasi penebangan masih didalam areal HTI, namun mereka dengan suka rela untuk menghentikan kegiatannya. Tim kecil Mr. Beny menyusur lorong-lorong yang tampaknya sudah tidak digunakan, beberapa informasi menyebutkan lorong tersebut tembus ke lorong baru tadi. Setelah menuruni bukit, kami menemukan tiga camp besar di pinggir sungai. Dari tantda-tandanya camp ini baru ditinggalkan 1- 2 hari yang lalu. Menurut perkiraan camp ini bisa menampung sekitar 10 orang, beberapa barang masih tertinggal di situ seperti, kapak, rantai, pakaian, bahan makanan, peralatan dll. Agar tidak digunakan camp ini kemudian dirobohkan.

Mr Beny dkk kemudian kembali ke tempat semula ,dimana mobil yang pecah ban masih menunggu solusi. Akhirnya diputuskan agar mobil yang satu kembali untuk membawa ban ke bengkel, sementara yang lain menunggui mobil yang pecah ban.

Disela-sela menunggui, datang seseorang dari Menamang yang pekerjaannya menjaga gua walet yang akan ikut menumpang. Menurut ceritanya banyak satwa yang masih ada disana seperti payau, kijang, beruang, ular, macan dahan. Sementara potensi sarang walet ada tetapi produksinya sudah jauh berkurang.

Sekitar 2 jam menuggu akhirnya datang ban baru yang telah di tambal, tidak hanya itu team juga membawa nasi bungkus telor yang membuat perut-perut kami bersorak.

Setelah selesai memperbaiki mobil dan mengisi perut, matahari telah tergelincir. Awan hitam mengggantung di angkasa. Perjalanan selanjutnya adalah kembali ke Pos diiringi rintik-rintik hujan yang mulai menetes…

Sepanjang perjalanan pulang ke pos tidak ada kata yang banyak kami ucapkan, masing-masing larut dalam perasaan masing-masing menyaksikan kondisi jantung kawasan konservasi itu. Sebuah pekerjaan rumah yang besar telah dipampangkan….

4 thoughts on “Ekspedisi ke pinggir jantung Taman Nasional Kutai

  1. salam,
    saya novi abdi, wartawan dan suka petualangan–saya menulis untuk kaltimpost, tribun kaltim, juga banyak media nasional. tulisan untuk tnk sebenarnya bisa dimuat di national geographic atau setidaknya intisari.
    kalau mau ekspedisi lagi, kabari saya ya.

    makasih banyak
    novi 08195552574

  2. Dengan senang hati, perjalanan ke kawasan konservasi seperti Taman Nasional Kutai sangat menarik, disamping melihat ‘warisan alam yang purba’ juga dapat mengerti problematika yang dihadapi. perlu suara yang lebh keras lagi untuk melindunginya.

    Kami akan menghubungi jika ada kegiatan serupa

    terima kasih atas ketertarikannya

  3. saya masih tunggu kabarnya loh,
    hehehehe

    ini nomor saya yang lain, 081347701819

    novi yang wartawan
    novi happy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s