wasiat para leluhur

Wasiat para leluhur

wasiatRumah kami  adalah hutan tropis yang telah kami huni ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu,  bersama keluarga dan para leluhur kami, jauh sebelum saudara-saudara kami yang berjalan tegak di tanah datang. Aku  masih ingat bahwa tanah kami adalah surga dengan pohon-pohonan penuh buah, obat-obatan alami, air segar dari pucuk pucuk dedaunan dan taman taman bermain bagi anak-anak kami.

Masih segar dalam ingatan,  saat saudara-saudara kami yang berjalan tegak di  tanah, berbaris-baris dengan membawa besi baja meraung-raung menghabisi rumah-rumah kami, menghabisi pohon buah-buah kami, menghabisi obat-obat  alam  kami, menghilangkan air segar kami dan menghancurkan taman bermain anak-anak kami. Sejak tigapuluh tahun yang lalu

Kami terpojok dihutan larangan, tempat sanak- keluarga kami berdesakan berebut  makanan dari akar-akar tanpa gizi, daun-daun muda tanpa vitamin, dan batang-batang kering sisa terbakar  tanpa karbohidrat, hanya untuk dapat bertahan agar dapat  menjalankan kewajiban  mulia yang telah diwasiatkan oleh para leluhur kami.

Kamipun masih ingat ketika saudara-saudara kami yang berjalan tegak ditanah datang berkapal-kapal,  mengusir kami dari hutan larangan ini dan minta berbagi hidup dengan menebang pohon-pohon buah kami yang tinggal sedikit dan merusak sebagian rumah kami yang sempit.

Kini, aku ditangan mereka, terperangkap pada jebakan setan saat  hendak melihat pohon buah yang telah sekian lama aku tinggal. Aku terikat pada sebatang pohon yang aku tak tahu namanya, dipinggir keramaian dengan wajah saudara-saudaraku yang berjalan tegak ditanah  tanpa welas asih,  silih berganti. Aku tidak ingin mati disini, doaku.

Saat serombongan  orang berbaju hijau datang dan mengantarkanku pulang, aku patut berlega bahwa aku akan mati dirumahku. Jasadku akan menjadi nutrisi yang menyuburkan rumahku, rumah yang aku jaga buah-buahnya, obat-obatnya, mata air-mata airnya dan taman-taman bermainnya.

Sekarang semuanya berpulang kepada saudara -saudaraku yang berjalan tegak ditanah. Apakah surga kami yang tinggal sejengkal ini  akan dihabiskan , apakah pohon-pohon buah kami yang tinggal beberapa batang akan dimusnahkan, apakah obat-obat alami yang tersisa sepetak ini akan dipunahkan, apakah mata air-mata air ini akan dikeringkan dan apakah taman-taman bermain ini akan dilantakkan.

Kami telah menjaga wasiat para leluhur kami dengan sekuat tenaga, kamipun tak pernah mengeluh sedikitpun tentang penderitaan yang kami alami, dan kamipun pantang berbelas kasihan dengan tugas mulia ini sebagai wasiat dari para leluhur kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s