conservation for better future

Dalam Kamus Inggris – Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1990) , secara etimologis, kata konservasi berasal dari kata conserve, yang berarti mengawetkan dan menghematkan (energi) Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989), konservasi bermakna  pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan. Sementara kata sumber daya alam berarti 1)  sumber daya atau kekayaan yang diadakan oleh alam berupa mineral, kesuburan tanah,  tenaga air, kekayaan hutan, fauna, dan flora, 2) segala kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menghasilkan sesuatu, dan 3) semua unsur daya lingkungan  biofisik yang secara potensial dapat membawa keuntungan bagi manusia

Prof Otto Sumarwoto (1994) mendefinisikan bahwa konservasi alam (nature conservation ) merupakan istilah yang diambil dari istilah cagar alam yang telah digunakan dan menjadi baku. Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada didalamnya. Di dalam cagar alam tidak diperbolehkan segala jenis aktivitas eksploitasi seperti perburuan, penebangan pohon dan  aktivitas merusak lainnya. Menurut kamus Poerwodarminto  cagar berarti benda yang dipakai sebagai tanggungan pinjaman atau hutang. Mencagar berarti memberikan barang sebagai tanggungan pinjaman. Jika dikaitkan dengan konsep alam maka sebenarnya alam ini adalah bukan milik kita, melainkan milik anak cucu kita atau milik generasi yang akan datang. Kita hanyalah meminjamnya dari anak cucu kita dan harus mengembalikannya kepada mereka dalam keadaan baik. Bahkan harus lebih baik dari semula sebagai pembayaran bunganya. Cagar alam itu merupakan tanggungan atau jaminan, bahwa kita akan mengembalikan pinjaman itu.

Konsep Taman Nasional pada prinsipnya  sama dengan konsep cagar alam, tetapi didalamnya dapat dilakukan kegiatan pembangunan yang tidak bertentangan dengan tujuan pencagaran alam. Kegiatan pembangunan dimaksud adalah ekowisata, penelitian dan pendidikan. Tujuan konservasi alam atau pencagaran alam paling tidak ada tiga yaitu:

  1. Memelihara proses ekologi yang esensial   sistem pendukung kehidupan seperti pengaturan tata air, iklim, daur oksigen , dll
  2. Mempertahankan keanekaragaman  hayati (keanekaragaman genetik)
  3. Menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan. Konservasi alam tidak berlawanan dengan pemanfaatan jenis dan ekosistem, namun pemanfaatan itu harus menjamin adanya kesinambungan sehingga kepunahan terhadap jenis dan ekosistem tidak boleh terjadi.

Sampai disini, sebenarnya konservasi alam sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan kehidupan manusia di planet bumi di masa yang akan datang . Jika proses-proses ekologi tidak berjalan maka malapetaka akan datang tanpa mampu dikendalikan sehingga mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Setiap jenis dalam suatu populasi mempunyai sifat yang berbeda, bahkan dalam  satu jenis juga dijumpai perbedaan sifat. Dapat dikatakan bahwa setiap  individu  mempunyai keunikan yang tidak dijumpai pada individu lain, hal ini dikarenakan adanya keanekaragaman gen dalam setiap individu. Misalnya  manusia secara umum berbeda dengan orangutan, tetapi  individu manusia  mempunyai sifat yang berbeda-beda dengan individu manusia yang lain. Hal ini juga terjadi pada hewan dan tumbuhan.

Dari sisi  ilmu pengetahuan keanekaragaman sifat / genetik ini sangat penting untuk dipertahankan. Misalnya dalam bidang pangan, jenis padi tertentu mempunyai sifat yang tahan terhadap serangan hama, tetapi bulirnya padinya sedikit dan waktu berbuahnya lama. Namun ada jenis padi lain yang bulirnya banyak dan waktu berbuahnya cepat namun tidak tahan terhadap serangan hama. Maka dengan ilmu pengetahuan sifat-sifat yang baik dapat diperoleh dari kedua jenis padi tersebut dengan persilangan sehingga dihasilkan padi yang tahan wereng dengan  umur pendek dan bulirnya banyak. Contoh tersebut dikenal sebagai pemuliaan tanaman. Pemuliaan ini sekarang sudah jauh berkembang ke bidang-bidang yang lain misalnya untuk tanaman jagung, kedelai, bahkan ke tanaman keras seperti jati super, jati emas dan sebagainya.

Untuk menjaga keanekaragaman genetik ini dapat terjaga, beberapa negara maju membuat semacam bank gen. Material genetik dari tumbuhan biasanya tersimpan dalam bijinya.  Bank gen menyimpan berbagai macam jenis biji-bijian dalam kondisi penyimpanan yang baik  untuk memelihara daya berkecambahnya dalam waktu yang lama. Misanya IRRI (International Iice Research Institute ) di Los Banos Filipina telah menyimpan hampir semua jenis padi-padian yang ada di dunia ( 120.000 jenis). Rusia juga mempunyai koleksi  yang ekstensif, sebuah bank gen di Rusia menyimpan 100.000 varietas jagung.

Tahun 1970  Amerika  memiliki meterial genetik  jenis gandum  yang dikoleksi dari 27 negara, sebagian besar diambil dari negara-negara berkembang. Sementara itu,  14 negara  berkembang dari 27 negara itu ternyata tidak mempunyai koleksi varietas gandum mereka sendiri. Afganistan, Korea dan Mesir telah kehilangan berbagai jenis varietas gandum mereka dan menemukan varietas itu disimpan di Amerika.

Penguasaan terhadap sumberdaya genetik membawa konsekuensi kekuasaan dari sisi ekonomi dan politik. Kenya, sebuah negara di Afrika,  harus mengimpor  jenis rumput dan kacang-kacangan dari Australia dengan biaya yang mahal, padahal rumput dan kacang-kacangan itu di kembangkan Australia dari  bahan yang diambil dari Kenya. Demikian juga dengan Libya yang harus mengimpor biji makanan ternak dari Australia yang semula berada di Libya sendiri. Saat ini mungkin kita sudah tidak menemukan varietas padi lokal di Indonesia, namun dapat dijumpai di IRRI Filipina. Dalam kondisi hubungun antar negara yang kurang baik, sumberdaya genetik ini dapat digunakan sebagai senjata politik terutama untuk jenis-jenis yang strategis. Negara dengan penguasaan sumber daya genetik yang lebih banyak tentu yang akan memperoleh keuntungan.

Bank gen sebenarnya sangat rentan,  kebakaran, kerusakan alat, dan bencana alam dapat menghacurkan koleksi-koleksi dalam sekejap. Oleh karena itu meyimpan di alam  dengan  cara mencagar/mengkonservasi kawasan hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi solusi yang paling tepat.

Di negara berkembang seperti di Indonesia dimana ilmu pengetahuan masih kalah di banding negara maju sangat penting untuk mencagarkan/mengkonservasi kawasan yang mempunyai potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Kawasan-kawasan konservasi seperti Taman Nasional, suaka margasatwa , taman wisata adalah ibarat bank gen yang disimpan di alam/ habitatnya. Cepat atau lambat manfaat dari tumbuhan yang ada dalam kawasan konservasi tersebut akan diketahui dan dimanfaatkan, mungkin tidak sekarang tetapi sepuluh, duapuluh atau limapuluh  tahun lagi atau bahkan lebih.  Keanekaragaman hayati adalah sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi generasi mendatang untuk memperoleh dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang.

Mungkin yang bisa kita lakukan sekarang adalah melindungi, menjaga agar jenis tumbuhan dan hewan tidak punah dan sedikit mengkaji manfaatnya bagi kita. Apabila kekayaan hayati kita terselamatkan maka kita sudah mengembalikan pinjaman  kita kepada anak cucu kita dan bunganya adalah manfaat yang telah kita kaji yang akan digunakan sebagai dasar bagi generasi mendatang untuk lebih jauh mengembangkannya. Kawasan konservasi adalah harapan yang cerah bagi masa depan anak cucu kita. Harapan itu sekarang ada di tangan kita. ( harjosumantri@gmail.com)

2 thoughts on “conservation for better future

  1. Jadi konsep Cagar Alam menjadi inti konservasi sedangkan lainnya merupakan turunannya….seperti TN, TWA, SM…

  2. Fungsi kawasan konservasi sebagai bank plasma nutfah belum dimanfaatkan secara optimal. Saya kira pekerjaan PEH ngga beda jauh dengan pekerjaan peneliti…dilihat dari segi intensitas dan ragam pekerjaannya, akan lebih bisa mengembangkan sesuatu yang lebih aplikatif… HAKI hak atas kekayaan intelektual harus dipahami betul oleh PEH…karena bisa menjadi income.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s