Landscape Kutai

ImageLandscape Kutai telah diketahui sejak dulu sebagai spot keanekaragaman hayati paling kaya di bagian timur Pulau Bonero. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai wildreservaat oleh Pemerintah Belanda dan Kesultanan Kutai . Tujuan dari penetapan ini agar keanekaragaman hayati dan spesies-spesies satwa dan tumbuhan unik yang ada diwilayah ini dapat lestari.  Landscape Kutai telah bertahan hampir satu abad, dan kini tersisa hanya pada spot kecil yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Kutai. Eksistensi Taman Nasional Kutai adalah harapan terakhir dari warisan paling berharga dari alam tropis digaris katulistiwa Borneo bagian Timur.

Orangutan morio diketahui banyak menghuni kawasan ini sebagai satu-satunya habitat yang dilindungi di Kalimantan Timur. Taman Nasional Kutai dipercaya sebagai kawasan pelarian bagi satwa liar termasuk orangutan yang kehilangan habitat akibat perubahan-perubahan landscape disekitarnya. Mereka begitu menderita ketika terjadi kebakaran hutan hebat tahun 1982/1983 dan kebakaran hutan tahun 1997/1998. Namun seberat apapun kondisinya, orangutan diketahui mempunyai kemampuan akan adaptasi yang baik dari kondisi krisis tersebut. Akira Suzuki, penelitia orangutan dari Jepang, lebih dari 20 tahun mengamati kondisi orangutan di Taman Nasional Kutai memiliki ketakjuban akan kemampuan orangutan bertahan dan beradaptasi  dari krisis. Anne E Russon, Profesor dari York University Canada, mulai meneliti perilaku orangutan liar sejak tahun 2008 di Taman Nasional Kutai selalu berdecak kagum atas kemampuan dan perilaku orangutan yang dinilai lebih cerdas dari kera besar lainnya, serta kondisi orangutan di Taman Nasional Kutai yang sehat dengan reproduksi yang cukup baik. Yaya Rayadin, Doktor dari Universitas Mulawarman, menilai meskipun sebagian kawasan rusak berat, namun populasi orangutan cukup tinggi antara 1400-2000 ekor di Taman Nasional Kutai.

Meskipun kabar tentang Orangutan Kutai cukup menggembirakan disini, namun kondisi habitat dan kawasan terus mengkhawatirkan dan memprihatinkan setiap hari. Disaat para cedekiawan dan ilmuan mengagumi dan menghargai kawasan ini sebagai tempat yang baik untuk penelitian, pendidikan maupun ekowisata serta memiliki harapan yang tinggi agar kawasan ini tetap ada dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang dengan kondisi yang lebih baik, sebaliknya para politisi, pengusaha hitam beserta para kompradornya sibuk menciptakan situasi chaos dengan memanfaatkan isu-isu lokal untuk menarik keuntungan sesaat jangka pendek. Isu mengenai enclave dan pelepasan kawasan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat terus dihembuskan sehingga menarik banyak orang untuk terus menduduki lahan. Jika tidak dapat dihentikan maka ekosistem Kutai yang sudah masyur itu akan punah. Anak-anak kita tidak  dapat lagi belajar dan melihat warisa alam yang menakjubkan itu. Sebagai sebuah bangsa maka kita kan dicap sebagai generasi yang “greedy”, generasi yang rakus, genarasi yang menghabiskan semuanya tanpa memikirkan  generasi yang akan datang.

Alam ini sejatinya adalah milik dari anak cucu kita, jika kita memanfaatkan hari ini, maka yang kita manfaatkan itu adalah pinjaman dari anak anak cucu kita. Kita harus mengembalikan  setidaknya sama baiknya dengan kondisi semua, atau seharusnya dikembalikan dengan kondisi lebih baik sebagai buah terima kasih atau sebagai pembayaran bunga dari yang kita manfaatkan saat ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s